3 Pelajaran untuk Dipetik dari Influencer Marketing dalam Pemasaran Brand 2020

By Rinaldy Sofwan Fakhrana,

04 November 2020

Anda yang rajin berselancar di media sosial pasti sudah sering banget dengar kata influencer bahkan mungkin sempat berpikiran juga untuk menggunakan jasa mereka dalam mempromosikan brand Anda. Ya, model marketing ini memang sudah bukan hal yang baru lagi, tetapi seperti apa sih eksekusi influencer marketing di tahun 2020? Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari tren tersebut untuk dijadikan bekal dalam merumuskan strategi influencer marketing berikutnya yang kemungkinan besar akan masih relevan hingga tahun berikutnya?

Influencer marketing adalah tipe pemasaran konten di media sosial yang memanfaatkan suara dari para influencer atau seseorang yang punya followers setia dan/atau dipandang sebagai ahli di bidangnya. Berdasarkan Mediakix data, Business Insider pun menjelaskan bahwa brand di seluruh dunia diperkirakan akan merogoh kocek hingga $15 miliar untuk bekerja sama dengan influencers di tahun 2022 nanti, naik signifikan dari $8 miliar untuk nilai industri yang tercatat di 2019. Angka ini menunjukkan, bagaimana sentimen audiens pada pemasaran influencer sekaligus menjamin metode ini masih akan terus menjadi andalan brand dunia. 

Nah, kalau di sepanjang tahun 2020 ini, bagaimana sih tren dan bentuk eksekusi dari influencer marketing? Influencer Marketing Hub pun sudah merangkum delapan tren mengenai hal tersebut, dan menurut kami, ada tiga poin penting yang masih relevan hingga saat ini dan bagus buat pembelajaran ke depannya ketika Anda ingin menjalankan influencer marketing untuk pemasaran brand Anda. Simak artikel ini sampai selesai, ya!

1. Selebritas Bukan Lagi Pilihan yang Paling Baik

Sesuai namanya, influencer ini punya kapasitas untuk memengaruhi pemikiran atau pengambilan keputusan orang banyak. Salah satu alasan keberhasilan influencer marketing adalah kepercayaan dari followers. Kepercayaan bisa terbangun karena mereka menganggap sosok yang mereka ikuti bukan agen pemasaran, melainkan individu yang memang ingin berbagi informasi sesuai dengan pengalaman pribadi. Nah, mulai tahun ini dan ke depannya audiens bakal lebih terpengaruh oleh influencers yang memang ahli di bidangnya. 

Menurut kami, “ahli di bidangnya” ini menjadi sebuah kunci, dan bisa juga diartikan influencer ini dikenal sebagai atau karena apa. Sebenarnya enggak masalah kalau Anda mau menggunakan jasa selebritas kalau memang sedang mengejar brand awareness dalam skala besar. Namun biasanya, para selebritas ini kelihatan banget endorsement-nya, misal public figure wanita papan atas yang tidak pula dikenal sebagai skincare enthusiast memakai merek pelembap wajah kelas C. Bukan berarti produk tersebut buruk, hanya jadi ketebak bangetlah kalau kecil sekali kemungkinannya artis ini menggunakan produk tersebut di kesehariannya. 

Hal seperti ini pada akhirnya dapat memengaruhi kepercayaan para followers-nya, “Oh idola gue lagi ngiklan nih.” That’s it. Baca caption-nya mungkin juga enggak, paling cuma kasih “like” atau memberi komentar pujian hanya karena itu idolanya tanpa benar-benar memperhatikan produk yang sedang dipromosikan. Tetapi, lain cerita jika seorang influencer yang memang skincare enthusiast mempromosikan sebuah pelembap wajah. Pertama, kemungkinan besar para follower-nya merupakan skincare enthusiast juga. Buat brand yang memang menjual produk skincare, ini berarti ada peluang pasar di sana.  Kedua, model influencer yang seperti ini biasanya akan memberikan review atau pendapat pribadi, bukan sekadar copy yang hard sell. Hal ini bagus banget buat membangun kepercayaan dengan audiens, karena berawal dari review inilah biasanya akan timbul interaksi antara influencer dan follower di kolom komentar. Dengan begitu, kedua hal tersebut dapat membuat penjualan brand menjadi efektif.

Makanya mulai sekarang, beralihlah pada para influencers yang benar-benar antusias di bidangnya/dikenal sebagai apa dan memiliki followers yang sesuai dengan target pasar Anda. 

2. Value dan Long-term Relationship

Bicara tentang value, perhatikan juga value atau nilai-nilai yang dipegang oleh influencer yang akan Anda pilih. Mencari influencers yang seia-sekata berguna untuk menghindari rusaknya hubungan di masa depan. Seringkali brand terpaksa harus memutus hubungan dengan influencer karena tindakan kontroversial, dan itu bisa merugikan kedua pihak. Lagi-lagi, Anda enggak bisa cuma memilih orang yang terkenal, tetapi yang mencerminkan nilai perusahaan Anda.

Nah, kalau sudah menemukan orang yang tepat, Anda pun bisa mulai membangun hubungan jangka panjang dengannya. Sebenarnya ini hanyalah sebuah opsi alias enggak harus. Hanya dari sisi brand, keuntungan membangun long-term relationship dengan seorang influencer adalah Anda bisa menghemat waktu, pengeluaran, dan effort ketimbang bergonta-ganti influencer dari campaign ke campaign. Tetapi lebih dari itu, hubungan jangka panjang ini  juga bagus buat membangun kepercayaan audiens.

3. Bergabungnya Influencer Marketing, Social Media marketing, dan Content Marketing

Setelah tahu influencer seperti apa yang bisa mendukung campaign Anda ke depannya, ada baiknya untuk tahu juga bakal jadi seperti apa dunia digital marketing kelak. Menurut Influencer Marketing Hub, tren saat ini menunjukkan perusahaan-perusahaan akan mulai memikirkan influencer marketing, social media marketing, dan content marketing sebagai sebuah kesatuan. Brand enggak lagi berfokus pada salah satu di antaranya, melainkan memanfaatkan dan memaksimalkan aspek-aspek dari ketiga hal tersebut hingga membentuk satu ekosistem yang utuh. 

Artinya begini, anggap saja Anda ingin mempromosikan produk botol minum yang handy dan cocok dipakai untuk pesepeda. Lalu, Anda memakai jasa influencer X yang memang menjalankan healthy lifestyle. Apakah tugas Anda selesai di sini? Tentu saja tidak. Agar promosi berjalan lancar, Anda masih perlu memikirkan beberapa hal. Apakah Anda ingin menjalankan promosi di media sosial? Maka Anda pun masuk ke ranah sosial media marketing. Sejauh ini Instagram sepertinya masih menjadi platform andalan untuk menjalankan influencer marketing mengingat kemudahan berinteraksi antara influencer dan para follower-nya di platform tersebut, lalu UGC atau user-generate content juga dapat dilakukan dengan maksimal. Hasil survei yang tercatat dalam “The State of Influencer Marketing 2020: Benchmark Report” saja menyatakan bahwa 87% dari 4000 responden yang terdiri dari brand, marketing agency, PR agency, dan perwakilan dari berbagai jenis pekerjaan memilih Instagram untuk menjalankan influencer marketing. Tetapi ke depannya, mungkin Anda akan mulai atau beralih memanfaatkan platform TikTok.

Anyways, kalau influencer dan platform sudah diputuskan maka saatnya menentukan bentuk content marketing-nya. Karena Anda berjualan di Instagram maka konten visual sudah sewajarnya Anda gunakan, dan tak lupa, Anda juga perlu meramu copywriting-nya. So, seperti inilah gambaran singkat untuk membentuk sebuah ekosistem antara influencer marketing, social media marketing, dan content marketing.

Oke, supaya Anda makin tercerahkan, kami punya contoh brand yang menerapkan tiga poin di atas dalam menjalankan influencer marketing, yakni Aqua. Dalam akun Instagram resminya, @sehataqua, Anda akan menemukan bermacam unggahan yang mencantumkan #kebaikanaqua. Hashtag tersebut akan muncul di setiap konten yang membahas tentang manfaat minum air dan komitmen Aqua dalam memberikan air kemasan terbaik sambil menjaga sumber airnya.

Nah untuk menyebarluaskan kebaikan-kebaikan tersebut, Aqua pun memanfaatkan peran para influencer dari level selebritas sampai mikro. Tetapi yang paling penting, Aqua memilih beberapa influencer yang brand image-nya sesuai dengan value dari campaign atau kegiatan yang sedang dilakukan Aqua, misalnya buat kegiatan “AQUA X Raisa Moms Sharing Session - Ibu Sehat, Keluarga Sehat” yang sempat disiarkan secara live di YouTube dan Facebook.

Melibatkan seorang penyanyi wanita Indonesia, seperti Raisa Andriana yang memiliki lebih dari 20 juta follower di Instagram tentu saja dapat mencuri awareness dari banyak orang. Namun, hal yang penting di sini adalah citra Raisa saat ini yang bukan hanya penyanyi cantik saja, namun juga seorang ibu yang aktif berkarya dan sayang keluarga. Jadi, sangatlah tepat Aqua memilih Raisa untuk terlibat dalam kegiatan sharing session yang bertujuan untuk mengedukasi para ibu di luar sana agar mampu menyeimbangkan waktu sehingga mereka bisa bermimpi dan berkarya sambil tetap melindungi atau memberikan yang terbaik bagi keluarga, salah satunya dengan memanfaatkan #kebaikanaqua. 

Nah, setelah kegiatan sharing session berlangsung, sekarang saatnya para influencer level mikro “bekerja”. Sama seperti Raisa, mereka juga adalah working moms atau para ibu yang aktif namun selalu ingin melindungi keluarga dengan kebaikan. Pemasaran konten pun mereka lakukan di Instagram dengan konten visual yang menampilkan foto ibu, anak, dan produk Aqua, juga copywriting yang membahas tentang serunya sharing session bareng Raisa, peran air mineral untuk ibu yang aktif, dan #kebaikanaqua.

Mom influencers pilihan Aqua

Buat kami, strategi influencer marketing milik Aqua yang satu ini cukup menarik: Memanfaatkan selebritas untuk menarik perhatian, lalu mengandalkan micro influencer untuk membangun kepercayaan dengan audiens. Seperti dua contoh gambar yang Anda lihat di atas, jumlah follower dari micro influencer ini jelas kalah jauh dibanding Raisa, tetapi mereka terlihat lebih engage dengan para follower-nya dengan membalas komentar. Lalu yang enggak kalah penting adalah komentar dari para follower mereka “nyambung” dengan apa yang mereka posting. Dari kacamata brand, tentu saja ini menguntungkan Aqua, karena kegiatan dan produknya dikomentari secara positif oleh audiens. Kepercayaan terhadap brand meningkat, produknya pun dinilai mampu memberikan kebaikan bagi para konsumennya. Yes, semua ini adalah hasil yang Aqua peroleh dari influencer marketing yang mereka jalani.

Oh iya, bicara soal hubungan antara membangun kepercayaan audiens dan pemanfaatan micro influencer ini juga sudah kami buktikan melalui influencer marketing yang kami lakukan untuk ByeBye-FEVER Indonesia. Mirip seperti Aqua, ByeBye-FEVER bersama SehatQ juga sempat melaksanakan #BincangNyaman secara live di Instagram untuk membahas alasan bayi gemar memasukkan benda ke dalam mulut dengan narasumber seorang dokter.

Secara singkat, sharing session ByeBye-FEVER kali ini menarget para ibu yang buah hatinya sedang berada di fase oral. Melalui penjelasan dari seorang dokter, ByeBye-FEVER pun mengedukasi para ibu terkait fase oral pada anak ini, mulai dari penyebabnya, dampak positif dan negatifnya, hingga cara menanganinya. Tak lupa, ByeBye-FEVER juga menginformasikan bahwa produk plester kompres bayi miliknya memiliki hidrogel yang dilengkapi dengan rasa pahit untuk mencegah bayi memasukkan plester ke dalam mulutnya.

Demi menyukseskan kegiatan tersebut, selain membuat konten promosi di akun Instagram ByeBye-FEVER, kami juga melibatkan seorang mom influencer yang tepat untuk mendukung kegiatan #BincangNyaman ini, yakni ibu muda yang anaknya juga sedang berada di fase oral. Selain itu, influencer rekomendasi kami ini juga bukan berasal dari level selebritas maupun makro, karena tujuan kami bukan sekadar mendapatkan audience awareness. Kami ingin meningkatkan engagement dan membangun kepercayaan audiens terhadap produk ByeBye-FEVER.

Saat kegiatan sharing session berlangsung, sang influencer mengambil peran sebagai pembawa acara. Setelahnya, ia pun mengunggah konten visual pada akun Instagram pribadinya dengan copywriting yang merangkum topik pembahasan sharing session bersama ByeBye-FEVER sekaligus membahas produk ByeBye-FEVER yang berkualitas, higienis, dan aman. 

Hasil unggahan influencer rekomendasi kami untuk ByeBye-FEVER

Sesuai perencanaan kami, para follower dari sang influencer yang didominasi ibu muda memenuhi kolom komentar. Dan para ibu ini tentu saja merupakan target audience dari ByeBye-FEVER. Bisa Anda lihat pada contoh gambar di atas: Komentarnya banyak yang positif, nyambung dengan isi unggahan, dan sang influencer pun membalas komentar mereka dengan baik. Dengan begini, brand jadi terasa lebih dekat hingga dapat meningkatkan kepercayaan audiens terhadap produk brand tersebut. Sebagai tambahan, rekaman sharing session kami unggah sebagai IGTV di akun resmi ByeBye-FEVER dan rupanya berhasil dinikmati oleh lebih dari 4000 penonton. 

Sampai di sini, tentu ada sudah belajar cukup banyak mengenai influencer marketing dalam memasarkan brand di tahun 2020. Anda tertarik untuk mencoba atau ingin memperbaiki strategi atau cara pemasaran Anda dalam melaksanakan influencer marketing? Enggak usah ragu, langsung saja klik logo WhatsApp di pojok kanan bawah. Kami menunggu sapaan Anda!

Related Articles

Content Marketing

Beriklan Secara Efektif dengan Instagram Ads

Instagram seharusnya menjadi peluang besar bagi brand Anda untuk menjalankan promosi dan berjualan. Namun, bagaimana sih caranya agar beriklan di Instagram enggak berakhir percuma? Yuk, sama-sama kita belajar memanfaatkan Instagram Ads dengan baik dan benar.

Content Marketing

Bye Boring Blog, Perbarui Content Creation dengan Cara Berikut!

Website perusahaan Anda memiliki fitur blog? Bagus dong! Jangan buru-buru putus asa kalau Anda merasa blog Anda sepi pengunjung dan enggak menarik. Saatnya Anda melakukan evaluasi dan segera berbenah agar artikel-artikel di dalamnya justru menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung website. Simak tips berikut!

Content Marketing

EDM dan Email Marketing: Lebih Personal Menyapa Audiens

Masih worth-it enggak sih yang namanya email marketing? Kalau dieksekusi dengan baik, EDM atau electronic direct mail bisa jadi sahabat baik bagi bisnis Anda. Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara mengimplementasikannya?

Browse Other Categories

We are your teammates.

We're never just another agency, we're your teammates, providing you with everything needed on the pitch of digital marketing.

Servicesarrow_forward

Hi there!

Ready to cook your digital content with us?

Contact Us Now
Whatsappp Sharing