Content Marketing Produktif Berkat CTA Efektif, Begini Caranya!

09 September 2020

Sebagai pebisnis, Anda pasti paham betapa pentingnya call-to-action (CTA)  dalam marketing. Namun, tahukah Anda kalau CTA bahkan bisa jadi salah satu faktor penentu antara keberhasilan dan kegagalan dalam content marketing? Ya, tentunya Anda enggak mau dong susah-susah bikin konten menarik dan enggak mendapatkan hasil yang setimpal.

Baik murni untuk mengajak audiens membeli produk maupun meningkatkan engagement dengan bermain mini quiz atau mengisi kolom komentar, setiap konten digital marketing yang Anda buat diharapkan bisa dikonversi menjadi sesuatu yang mendukung upaya pemasaran. Nah, bagaimana caranya membuat CTA yang efektif dalam content marketing agar tujuan-tujuan itu bisa tercapai? Langsung kita bahas saja bareng-bareng yuk!

Ada banyak cara untuk mendefinisikan CTA. Dikutip dari The Balance Small Business, salah satunya adalah:

“Pernyataan yang didesain untuk mendapatkan respons segera dari pendengar atau pembaca.” 

 

Biasanya, call-to-action dinyatakan di akhir atau saat Anda melakukan sales pitch, dengan harapan potential clients and customers bisa segera bertindak saat mereka tertarik dengan apa yang Anda tawarkan. 

Ya, “segera” adalah salah satu kata kunci yang perlu Anda ingat di sini. CTA yang efektif punya sense of urgency yang menggerakkan audiens untuk bertindak saat itu juga. Jika pesan ini tidak tersampaikan, ada kemungkinan calon pelanggan berpikir terlalu lama dan akhirnya membatalkan niat atau menemukan alternatif lain. 

“Beli sekarang” adalah salah satu contoh paling sederhana dari call-to-action yang menggerakan audiens untuk bertindak saat itu juga. Tetapi, tentunya itu enggak cukup meyakinkan karena calon pembeli enggak mendapatkan alasan, mengapa harus membeli produk itu sekarang juga. Memangnya, kalau beli besok atau lusa kenapa? Harganya naik? Barang keburu habis?

Dengan menempatkan diri di posisi customer atau client dan mempertanyakan hal-hal semacam itu, Anda bisa memformulasikan CTA apa yang paling cocok untuk setiap skenario. Tentunya Anda familier dengan CTA semacam “beli hari ini, besok harga naik,” kan? Itu adalah salah satu cara marketers menekankan sense of urgency ini.

Enggak ada rumus pasti, CTA seperti apa yang paling efektif karena semua harus menyesuaikan dengan skenario masing-masing. Namun, AudienceOps punya beberapa hal yang bisa membantu Anda. Kami pun coba merangkumnya menjadi empat poin berikut:

1. Fokus pada Keuntungan yang Ditawarkan
Apa sih yang bakal audiens dapatkan? Diskon atau free trial? Nah, langsung saja tawarkan keuntungan tersebut agar menjadi motivasi tambahan bagi audiens untuk bertindak. Misalnya, “Say hello to our newest Pizza 'Spicy Tuna’. Diskon 50% khusus untuk 20 pelanggan pertama hari ini, yuk pesan sekarang!”

2. Permudah Konversi
Jelaskan dengan gamblang bagaimana cara audiens menindaklanjuti ajakan Anda. Misalnya, “klik link di bio untuk mendapatkan tawaran menarik dari brand kami” cocok banget untuk ditulis di caption Instagram.

3. Pantau Terus Performa
Anda mungkin sudah merasa punya CTA yang bagus, tetapi jangan lupa lihat kenyataan performanya melalui analytic platform yang Anda gunakan. Kalau enggak menunjukkan hasil konversi yang baik, berarti masih ada masalah yang harus dievaluasi.

4. Adaptasi
Dengan data tersebut, uji coba format CTA baru sampai bisa mendapatkan performa yang mumpuni. Keep what’s working and leave what’s not working. 

Lalu seperti apa contoh CTA dalam konten digital marketing yang dilakukan para brand di luar sana? Well, Anda bisa melihat 50 contoh call-to-action yang sudah dirangkum oleh AdEspresso by Hootsuite. Dari bahasan tersebut, Anda bisa melihat berbagai contoh CTA untuk Facebook Ad, Instagram Ad, Email Ad, sampai Website Ad. Berdasarkan contoh yang ditampilkan, rata-rata CTA diawali dengan penjelasan soal benefit dari penawaran brand tersebut dan diselipkan sense of urgency, kemudian diakhiri dengan arahan untuk mengeklik button tertentu atau swipe up, misalnya:

Kredit: Toms dan CanvasPop

 

Kredit: spotify dan Williams Sonoma

Nah, namun bagaimana nih kalau Anda ingin menyelipkan CTA yang lebih smooth, tanpa ada embel-embel “shop now” atau “learn more”? Bisa kok. CTA seperti ini biasanya paling cocok diterapkan pada content marketing dalam bentuk artikel dalam blog yang biasanya memang bertujuan soft selling. Lewat blog, Anda bisa mengemas “jualan” Anda dalam storytelling yang menarik sambil tipis-tipis menyelipkan CTA seperti contoh berikut:

Gambar di atas merupakan penggalan dari salah satu artikel buatan kami untuk ByeBye-FEVER Indonesia dalam blog ruangnyamanbunda.com, sebuah ruang di mana para ibu Indonesia bisa mendapatkan informasi dan tips tepercaya seputar parenting dan kesehatan keluarga. 

Artikel pada gambar berjudul “Vaksin yang Wajib Anak Dapatkan Sejak Lahir” dan melaluinya, kami mengedukasi para ibu soal pentingnya vaksin, jenis vaksin yang wajib, serta di usia berapa anak boleh mendapatkannya. Nah, salah satu efek samping yang bisa dialami anak setelah menjalani imunisasi adalah demam dan ByeBye-FEVER sendiri merupakan merek dari plester kompres untuk bayi dan anak. 

Karena tujuannya soft selling maka setelah merangkai storytelling yang apik, kami pun menyisipkan CTA secara halus: Ketika demam mulai menyerang si kecil setelah imunisasi, tempelkan kompres demam ByeBye-FEVER Bayi di dahi, lipatan ketiak, atau lipatan paha. 

Kami enggak perlu bilang “beli ByeBye-FEVER sekarang, ya!” juga tidak menempatkan button “beli sekarang” di sana, namun kami tetap mengarahkan para audiens untuk menggunakan produk ByeBye-FEVER jika anaknya mengalami demam.  Tak ketinggalan, kami pun menutup artikel ini dengan CTA yang mengajak para ibu untuk share artikel tersebut di akun media sosial mereka.

Bagaimana, sudah terbayang CTA seperti apa yang akan Anda gunakan di konten digital marketing Anda selanjutnya? Tenang, kalau Anda merasa hal ini lebih baik dilakukan oleh tim kreatif yang memang ahlinya, in-house content writers dan social media officers kami punya segudang call-to-action menarik yang bisa bantu brand Anda formulating the best CTA for each of your content

Klik “contact” di pojok kanan atas atau logo WhatsApp di kanan bawah untuk menggaet lebih banyak audiens bersama Contendr sekarang!

Related Articles

Powerful and Effective: 5 Cara Jitu Membuat Ad Copy yang Menjual

Dalam pemasaran digital, copywriting merupakan proses penulisan copy yang diformulasikan sedemikian rupa agar menjadi sebuah frasa, kalimat, atau paragraf yang persuasif dan menjual. Jadi, bagaimana cara memformulasikannya dengan tepat? Simak lima tips berikut, ya.

Graphic Design Trend yang Eksis di 2020

Memasuki Q4 di tahun 2020, tren graphic design seperti apa sih yang digunakan sepanjang tahun ini oleh berbagai brand di luar sana? Dan tentunya, masih bisa Anda gunakan juga. Semoga terinspirasi!

Content Writing vs Copywriting, Apa Sih Perbedaannya?

Meskipun sama-sama menulis, namun hasil penulisan dari content writing dan copywriting jelas berbeda. Dengan mengetahui perbedaannya, Anda jadi bisa menentukan skillset mana yang brand Anda butuhkan untuk menyukseskan digital marketing Anda. Simak pembahasan kami tentang content writing vs copywriting berikut, ya!

Browse Other Categories

We are your teammates.

We're never just another agency, we're your teammates, providing you with everything needed on the pitch of digital marketing.

Servicesarrow_forward

Hi there!

Ready to cook your digital content with us?

Contact Us Now
Whatsappp Sharing