Content Writing vs Copywriting, Apa Sih Perbedaannya?

26 August 2020

Dalam digital marketing, konten merupakan tenaga penggerak atau driving force di balik online campaign bagi brand Anda. Tanpanya, produk atau jasa Anda tidak mungkin ditemukan oleh mesin pencari maupun audiens di dunia digital. Begitu besar peran konten hingga dalam pembuatannya Anda perlu memperhatikan banyak hal, termasuk dalam penulisan copy-nya yang dikenal dalam istilah “content writing” dan “copywriting”. Sekalipun terdengar mirip, namun ternyata keduanya memiliki perbedaan yang cukup signifikan dari segi tujuan, length, struktur bahasa, dan lain sebagainya.

Nah, dengan mengetahui perbedaannya, Anda jadi bisa menentukan skillset mana yang brand Anda butuhkan untuk menyukseskan digital marketing Anda. Simak pembahasan kami tentang content writing vs copywriting berikut, ya!

Content Writing

Sesuai dengan namanya, content writing adalah proses penulisan konten. Namun, penulisannya memiliki goal yang spesifik. Dikutip dari UXplanet, to inform, educate, and engage adalah tujuan utama dari content writing. Seorang content writer perlu memiliki all-rounder writing skill, baik dari teknik penulisan, storytelling, maupun grammar. Mengapa begitu? Soalnya hasil dari pengerjaan content writing adalah:

Hard-sell is a no go. Karena tujuan utamanya memberikan informasi, mengedukasi, atau menginspirasi audiens, bukan jualan, maka content writing biasanya menghindari penulisan yang terlalu “sales-y”. Konten akan diisi dengan informasi relevan yang dibutuhkan audiens dan memiliki value, bukan mempromosikan produk/servis Anda secara blak-blakan.

It can be long and short, but usually longer. Sebagai sumber informasi dan inspirasi, isi konten jadi cenderung lebih panjang. Dengan jumlah kata yang lebih banyak, Anda juga bisa membangun storytelling yang lebih baik. Jika brand Anda memiliki blog dan menjadikan artikel sebagai salah satu bentuk content marketing Anda, maka pengerjaan content writing sangat cocok untuk diaplikasikan. Namun, pastikan konten Anda concise dan mudah dipahami, ya.

Content is the reason search began in the first place. Content writing merupakan proses yang sulit dipisahkan dari keterlibatan SEO atau Search Engine Optimization. Keberadaan konten membuat audiens ingin melakukan pencarian, karena konten yang Anda unggah di internet akan otomatis terindeks oleh mesin pencari. 

Mengoptimalkan SEO dengan content writing, melalui keywords misalnya, website Anda bukan hanya terindeks tapi juga dapat muncul di laman pertama Google search. Semakin banyak orang yang discover brand Anda lewat Google, semakin tinggi pula organic traffic website Anda. Makanya, banyak brand yang berlomba-lomba untuk menjadi yang teratas dengan memaksimalkan content writing mereka.

Content writing is a long play. Menurut Ryan Loftus dari Altitudemarketing, content writing adalah proses yang memakan waktu lama, jadi jangan expect hasilnya akan instan. Konten digunakan untuk membangun awareness dan kepercayaan audiens terhadap brand Anda. So, hasilnya dapat Anda rasakan seiring dengan berjalannya waktu.

“A great content is the one that captures attention and builds trust.”

Marketing hub Hubspot sudah membuktikan the power of content dan content writing di website mereka sendiri. Dengan menulis blog, mereka memberikan in-depth information tentang marketing, tips copywriting, dan lain-lain yang dibutuhkan dan banyak dicari oleh user. Selain itu, konten mereka dibuat lebih valuable dengan menyertakan ebook, report, atau template gratis yang bisa diunduh oleh pembaca dengan mudah. Lalu, beberapa tahun terakhir ini Hubspot juga membuat konten pembelajaran di hubspot academy untuk para marketer yang membutuhkan training dan sertifikat marketing. Konsistensi content writing yang dilakukan Hubspot pun meningkatkan brand awareness dan level trustworthy mereka di mata audiens, yang pada akhirnya menjadikan mereka salah satu website marketing paling tepercaya saat ini.

Efektivitas content writing mereka sukses membuat website mereka naik ke peringkat #5 sebagai most visited online marketing tech space di tahun 2016. Selain itu, Hubspot juga mengantongi lebih dari 25 juta monthly website visit. Bahkan menurut laporan Forbes, dalam sepuluh tahun terakhir, Hubspot mampu menjadi multi-million dollar company dengan market value lebih dari USD 270 juta. 

Contoh konten blog in-depth dari Hubspot yang menyertakan free guide

Copywriting

Oke, mari kita beralih pada copywriting. Salah satu elemen paling penting dalam marketing ini merupakan sebuah seni dan science dalam pembuatan copy untuk menjual produk atau jasa yang Anda tawarkan. Copywriting seperti call-to-action dalam skala besar yang bisa membuat audiens Anda penasaran, merespon, dan tertarik untuk membeli/memiliki apa yang diiklankan.

Jika Anda membutuhkan penulis all-rounder dalam content writing, maka skill yang dibutuhkan dalam copywriting cukup berbeda. Content Marketing Institute menekankan bahwa selain kemampuan menulis yang baik, copywriter harus mampu membuat headline, mengetahui tentang UX (user experience), berpengalaman di bidangnya (specialist), dan aware dengan seluk beluk strategi marketing yang sedang dijalankan. Bisa dibilang copywriter perlu kemampuan yang lebih spesifik dibandingkan dengan content writer. Bagaimana hasil dari pengerjaan dari copywriter?

Created to persuade and sell. Berbeda dengan content writing yang bertujuan mengedukasi, copywriting diperuntukkan semata-mata untuk menjual atau membuat audiens melakukan sesuatu. Menurut penelitian dari Harvard Business School, 90% purchase dibuat berdasarkan dorongan emosional. Oleh karena itu, copy sengaja dibuat “menggelitik” emosi pembaca supaya penasaran dan ingin membeli produk atau memakai jasa yang ditawarkan.

Short but memorable. Hasil dari copywriting biasanya pendek jika dibandingkan dengan pengerjaan content writing yang bisa ditulis bahkan sampai ribuan kata. Sengaja dibuat singkat agar mudah diingat dan persuasif. Gaya penulisannya juga cenderung lebih bebas dan tidak kaku mengikuti aturan tata bahasa. Copy biasanya kita temui di ads online atau offline (seperti billboard), landing page website, product page, sales email dan lain sebagainya--apa saja yang berhubungan dengan penjualan atau conversion.

Dibandingkan dengan content writing, result dari copywriting cenderung dapat dilihat dan dirasakan seketika saat ads tersebut dijalankan. So, you will actually know which copy is effective, and which one is not.

“A great copy is the one that sells.”

Kita ambil contoh, iklan saus tomat Heinz tahun 2017 bisa jadi bahasan menarik untuk successful copywriting.

Heinz menjalankan ad ini karena terinspirasi oleh serial TV AMC berjudul “Mad Men”. Pada salah satu episodenya, Don Draper, tokoh utama fictional dalam cerita tersebut yang merupakan seorang copywriter, sedang melakukan pitching untuk iklan Heinz. Walaupun dalam cerita tersebut konsep Don Draper ditolak oleh Heinz, Heinz di dunia nyata justru menjadikannya peluang untuk membuat marketing campaign offline (billboard) dan online lewat media sosial.

Copy yang dipakai sangat sederhana, “Pass the Heinz”, dan menampilkan visual kentang goreng, burger, dan steak tanpa saus. Hal ini mengundang emotional response dari audiens yang merasa makanan favorit mereka kurang lengkap tanpa adanya Heinz. Mereka jadi tergugah untuk membeli produk Heinz demi menyempurnakan rasa makanannya.

Copy dan salah satu tampilan visual dari iklan Heinz  

Efektivitas copywriting dalam ad ini dapat dilihat dari media impression-nya yang mencapai 2.6 miliar impression dan USD 22 juta media earning. Selain itu, ad campaign ini juga menjadi yang paling populer dan banyak dibicarakan dibandingkan dengan iklan Heinz yang lainnya.

Nah, sekarang sudah tahu kan perbedaan signifikan antara content writing dan copywriting? Jadi, mana yang harus Anda pilih? Jawabannya tergantung  tujuan brand dan bentuk content marketing yang ingin Anda pakai. Jika tujuan Anda meningkatkan brand awareness, membangun kepercayaan konsumen, dan meningkatkan organic traffic maka content writing-lah jawabannya. Sebaliknya, jika Anda ingin meningkatkan sales, leads, atau conversion, copywriting is your go-to option. Bagaimana kalau ingin semuanya? Then try both.

Di Contendr, kami bisa melakukan keduanya. Tim in-house writer kami yang berpengalaman memiliki kemampuan yang Anda butuhkan untuk membuat konten yang engaging dan copy yang efektif sesuai dengan tujuan brand Anda. After all, we are storytellers that only deliver valuable contents to your audiences. Jangan ragu untuk berbincang dengan kami lebih jauh di sini ya!

Related Articles

Powerful and Effective: 5 Cara Jitu Membuat Ad Copy yang Menjual

Dalam pemasaran digital, copywriting merupakan proses penulisan copy yang diformulasikan sedemikian rupa agar menjadi sebuah frasa, kalimat, atau paragraf yang persuasif dan menjual. Jadi, bagaimana cara memformulasikannya dengan tepat? Simak lima tips berikut, ya.

Graphic Design Trend yang Eksis di 2020

Memasuki Q4 di tahun 2020, tren graphic design seperti apa sih yang digunakan sepanjang tahun ini oleh berbagai brand di luar sana? Dan tentunya, masih bisa Anda gunakan juga. Semoga terinspirasi!

Content Marketing Produktif Berkat CTA Efektif, Begini Caranya!

Setiap konten digital marketing yang Anda buat pasti memiliki tujuan dan diharapkan bisa dikonversi menjadi sesuatu yang mendukung upaya pemasaran. Nah, bagaimana caranya membuat CTA yang efektif dalam content marketing agar tujuan-tujuan itu bisa tercapai?

Browse Other Categories

We are your teammates.

We're never just another agency, we're your teammates, providing you with everything needed on the pitch of digital marketing.

Servicesarrow_forward

Hi there!

Ready to cook your digital content with us?

Contact Us Now
Whatsappp Sharing