Wajib Baca! 5 Fakta Menarik Soal Clubhouse

By Rinaldy Sofwan Fakhrana,

09 April 2021

clubhouse

Ah, Clubhouse. Pernah dengar? Pasti. Sudah gabung? Belum tentu.

Ini bukan karena platformnya enggak menarik, tetapi lebih karena sifatnya yang eksklusif. Aplikasi audio chat buatan Paul Davidson dan Rohan Seth tersebut, hingga saat artikel ini ditulis, masih bersifat invite-only. Artinya, Anda enggak bisa sekadar mengunduhnya dari App Store dan bikin akun begitu saja.

Anda harus mendapatkan undangan dari orang lain yang sudah tergabung dalam platform media sosial baru ini untuk bisa join. Setelah bergabung Anda mendapatkan dua jatah invitation untuk mengundang orang lain untuk ikut bergabung. Ya, cuma dua. Kalau di dunia nyata eksklusivitasnya hampir seperti yacht club, private club atau … 

… yak benar sekali, club house, sesuai namanya. IVL elitism, anyone?

Banyak selebritas yang sudah gabung, mulai dari talk show host, Oprah Winfrey; vokalis emo sekaligus pemeran Joker, Jared Leto; sampai komedian dan aktor yang berperan mempopulerkan ungkapan “Burn!”, Ashton Kutcher. Saya sendiri enggak cukup elit untuk dapat invitation. Tetapi itu bukan berarti saya tutup mata karena, ternyata oh ternyata, platform ini punya potensi buat dimanfaatkan brands

Ada gula ada semut, ada influencers, ada marketers. Karena banyak tokoh-tokoh terkemuka di platform ini, brands mulai melirik peluang yang ditawarkan. Salah satu contohnya adalah Martell Cognac yang bekerja sama dengan content creator bidang marketing Karen Civil untuk mendukung entrepreneurs perempuan kulit hitam selama Black History Month. Brand tersebut menggelar serangkaian sesi Clubhouse bersama tokoh-tokoh relevan sepanjang Februari kemarin.

Ada banyak hal menarik lain yang saya temukan saat berselancar internet mencari tahu tentang platform ini. Tetapi ada lima di antaranya yang rasanya wajib buat dibagikan pada Anda lewat artikel ini. Apa sajakah?  

1. Cuma sembilan pegawai

Sebelum bergabung dengan Contendr, saya memulai karier juru tinta digital sebagai satu dari 10 reporter pertama di satu media internasional yang baru merintis di Indonesia, tujuh tahun lalu. Kondisi 10 anggota tim (belum termasuk staf redaksi dan fungsional) itu bertahan kurang lebih selama satu bulan dan, honestly, menurut saya setup itu saja sudah terasa minimalis banget. Karena itu, saya lumayan kaget mengetahui kalau Clubhouse cuma digawangi oleh sembilan orang.

Enggak banyak hal lain yang ditemukan seputar hal ini selain kalau informasi tersebut berasal dari blogger Jenna Howieson dan kalau perusahaan terkait sedang aktif merekrut karyawan. Clubhouse memang terhitung pemain baru, diluncurkan saat COVID-19 mulai masif mewabah, Maret 2020. Komunitasnya saat itu sangat kecil, dan isinya, mostly, venture capitalists

Dalam dua bulan, aplikasi ini mencapai nilai USD 100 juta setelah perusahaan mendapatkan investasi sebesar USD 12 juta dari Andreessen Horowitz dan digunakan oleh 1.500 orang. Saat ini, Alpha Exploration Co.--perusahaan di balik Clubhouse--masih terbuka untuk menerima investor baru dan jumlah pegawai yang hanya sembilan orang ini pun kemungkinan akan meningkat seiring perkembangan bisnis.

Jadi buat Anda yang saat ini sedang merintis startup dan baru punya sedikit pegawai, enggak usah khawatir. Dengan ide cemerlang dan sedikit keajaiban “faktor x,” semuanya bisa terjadi. Well, faktor “E” lebih tepatnya, dalam kasus Clubhouse--E dari Elon Musk. 

2. The “E” Factor, for Elon

Clubhouse bisa dibilang seperti kita yang beruntung karena planet bumi punya kondisi sempurna buat mendukung kehidupan berbasis karbon--jarak yang pas dengan matahari, komposisi atmosfer yang tepat, medan magnet yang melindungi permukaan dari radiasi ultraviolet, dan lain-lain. Seperti yang disinggung sebelumnya, buah pikiran unik Davidson dan Seth lahir saat orang-orang terisolasi karena pandemi dan butuh interaksi sosial. Di saat yang sama, existing platforms belum menawarkan sesuatu yang baru.

Kondisi yang mendukung ini diperkuat oleh faktor “E”. CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk beberapa kali tampil menggunakan Clubhouse. Pada 31 Januari 2021, Musk menggelar sesi audio-chat bersama CEO Robinhood Vlad Tenev, dan invitations pun menyebar secara viral. Batasan jumlah audiens di angka 5.000 orang pun tercapai dalam hitungan waktu singkat. Sejak saat itu, Clubhouse terus berkembang dan per Februari 2021 aplikasi tersebut digunakan seenggaknya oleh 2 juta orang. 

Apa iya, ini semua sepenuhnya karena Elon Musk? Well, it’s up for debate. Memang, setelah penampilan Musk tersebut Clubhouse booming di China, Jepang, Taiwan, dan Hong Kong. Tetapi data jumlah download harian yang dikutip Quartz menunjukkan kalau Musk bukan leading figure dalam hal pengguna Clubhouse. Tren unduhan aplikasi tersebut memang sudah meroket sejak penampilan live sejumlah black creators pada Desember 2020, dan Musk jump in setelahnya.

Apakah aplikasi ini akan sesukses sekarang tanpa faktor “E”? Kalau Anda nonton film The Butterfly Effect, tentu Anda tahu jawabannya: mungkin ya, mungkin enggak. Enggak ada yang tahu karena perubahan kecil saja bisa punya dampak yang besar banget.

3. Digunakan selama puluhan jam per minggu

Bicara soal perubahan, salah satu faktor yang mendukung Clubhouse melejit juga adalah berubahnya pola kita menjalani kehidupan sehari-hari. Penggunaan dan jumlah pengguna media sosial global meningkat karena banyak dari kita yang harus stay at home dan enggak bisa berinteraksi secara tatap muka. Dan Clubhouse hadir dengan konsep baru untuk memberikan pengalaman berbeda di tengah situasi ini.

Walau jumlah penggunanya terbatas eksklusivitas, mereka yang beruntung bisa gabung platform ini tercatat menghabiskan waktu yang cukup lama menggunakan aplikasi. Dikutip Influencer Marketing Hub, rata-rata pengguna menghabiskan puluhan jam per minggu. Salah seorang di antaranya dilaporkan melampaui angka 40 jam, dan sejumlah pengguna yang memposting statistik penggunaannya di Twitter menunjukkan angka 11-22 jam.

I don’t know about you, tetapi, untuk perbandingan, statistik rata-rata screen time harian smartphone saya ada di sekitar tiga jam, yang artinya roughly 21 jam per minggu. Dan ini termasuk penggunaan aplikasi lain, cek notifikasi, atau sekadar unlock dan lockhandphone karena gabut ya. Karena itu, mengetahui Clubhouse, satu aplikasi sendiri, bisa digunakan sampai puluhan jam, buat saya pribadi lumayan bikin mangap.

Well, yang jadi catatan adalah saya memang bukan smartphoneheavy-user, sih. Tetapi Anda sendiri bagaimana? Berapa jam yang bisa Anda habiskan per minggu untuk menggunakan satu aplikasi media sosial? 

4. Diblokir di sana-sini, Indonesia mungkin menyusul

Mendengar orang bisa sampai menggunakan aplikasi selama itu mungkin bikin Anda makin penasaran dengan Clubhouse. Tetapi buat yang belum dapat invitation, jangan terlalu banyak berharap dulu karena aplikasi ini bisa jadi diblokir, Mei yang akan datang. Alasannya? Karena Clubhouse belum terdaftar di Kementerian Kominfo sebagai penyelenggara sistem elektronik.

Sedih ya, blokir lagi, blokir lagi. Saya sih sampai hari ini masih suka kesal kalau hasil Googling teratas ternyata berasal dari Reddit dan jadinya enggak bisa akses karena diblokir pemerintah. Tetapi ya seenggaknya kita masih bisa cukup bebaslah mengutarakan pendapat di media sosial walaupun agak ngeri-ngeri sedap sama UU ITE. Kalau di Cina, lain cerita

Karenanya, Clubhouse sempat booming di negara tersebut dan menarik banyak pengguna yang ingin berekspresi dengan bebas atau membahas hal-hal yang biasanya diblokir oleh pemerintah, seperti isu Xinjiang, Hong Kong, dan Taiwan. Aplikasi ini lolos sensor pemerintah Cina untuk beberapa bulan, namun akhirnya diblokir pada 8 Februari lalu. Ironis, karena aplikasi ini bergantung pada platform audio Agora.IO, yang berasal dari negeri tirai bambu.

Di Oman, Clubhouse diblokir dengan sebab yang mirip-mirip dengan alasan Kominfo di sini--enggak punya izin. Tetapi, sejumlah aktivis curiga kalau pemblokiran itu terkait dengan censorship, seperti di Cina. Hmm, menarik ya kalau membandingkan dengan yang terjadi di sini.

5. Akan dibuka untuk umum

Yang enggak kalah menarik adalah niat Clubhouse untuk membuka akses untuk umum walaupun selama ini salah satu hal yang membuatnya diminati adalah eksklusivitasnya. Selain invite-only, hingga saat ini aplikasi tersebut cuma tersedia untuk iOS, dan enggak ada di Android. Jumlah pengguna iPhone yang jauh lebih sedikit ketimbang smartphone dengan sistem operasi buatan Google ini membuatnya makin terasa eksklusif.

Tetapi belakangan, Clubhouse menyatakan akan membuat aplikasi ini tersedia juga di Android. Aplikasi ini baru mulai dikembangkan setelah perusahaan merekrut Android Developer, Februari kemarin. Apakah dia termasuk sembilan orang pegawai yang kita bahas di atas? Entahlah. Yang jelas aplikasi untuk si robot hijau diperkirakan baru akan tersedia dalam hitungan bulan.

Selain itu, dalam blognya, Seth dan Davidson menyatakan berfokus untuk “membuka Clubhouse ke seluruh dunia” di tahun ini. Untuk itu, mereka menyatakan sudah mendapatkan segambreng investasi baru dan siap membuat aplikasi lebih baik. Melihat dari blog ini, tampaknya Clubhouse ingin menggambarkan kalau mereka memang selalu berniat untuk membuat aplikasi yang terbuka, tetapi hal itu terbatas oleh beberapa hal seperti server yang belum memadai dan company size yang masih seadanya.

Dalam blog tersebut Clubhouse juga menyatakan akan berusaha menjaga server yang masih sering mengalami gangguan karena terlalu banyak pengguna, memberikan layanan support lebih cepat, meningkatkan pengalaman discovery dalam aplikasi, dan berinvestasi pada content creators.

My Takeaway?

Walau menarik untuk marketers, masih banyak ketidakpastian seputar aplikasi ini yang bikin kita masih harus hati-hati. Apakah platform ini bisa keep up dengan company size yang minimalis? Apakah popularitasnya hanya hype sesaat? Apakah aplikasi ini akan diblokir? Apakah aplikasi ini akan benar-benar mengkhianati namanya yang terkesan eksklusif dan dibuka untuk umum? Kita harus lihat dulu bagaimana perkembangannya.

Tetapi itu bukan berarti kita harus mengabaikan potensinya. Jangan sampai brands lain sudah terjun ke platform ini dan Anda ketinggalan. Mungkin langkah terbaiknya adalah pantau terus perkembangannya dan mulai buat corat-coret sketsa bagaimana Anda akan approach ladang brand engagement baru ini.

So you should look into it. And we ARE looking into it. Kalau Anda tertarik untuk bertukar ide dan berdiskusi lebih jauh seputar Clubhouse atau social media marketing lainnya, hubungi saja kami, Contendr, boutique content marketing agency dan kita bisa langsung ngobrol as soon as you’re ready. 

What do you think about this new opportunity? Let us know!

Related Articles

Content Marketing

4 Ide Pemasaran Brand Selama Bulan Ramadan 2021

Sebagai negara yang didominasi oleh penduduk muslim maka tak heran kalau Ramadan menjadi salah satu tema besar bagi para marketer dalam melaksanakan pemasaran brand di Indonesia. Nah, pada Ramadan tahun ini, ide pemasaran seperti apa yang bisa Anda coba? Berikut empat di antaranya.

Content Marketing

Promosi Brand di Clubhouse, Pentingkah?

Apakah Clubhouse dapat menjadi peluang baru bagi brand untuk melakukan pemasaran? Atau mungkin terdapat fakta lain yang menunjukkan Clubhouse tidak terlalu penting untuk dijadikan platform promosi terutama di Indonesia. Yuk, kita bahas lebih detail!

Content Marketing

EDM atau Newsletter Makin Menjual dengan 4 Ide Berikut

Anda menjadikan newsletter atau EDM sebagai salah satu bentuk content marketing bagi brand Anda? Strategi apa yang bisa Anda gunakan untuk membuatnya makin menjual? Yuk simak empat ide berikut!

Browse Other Categories

We are your teammates.

We're never just another agency, we're your teammates, providing you with everything needed on the pitch of digital marketing.

Servicesarrow_forward

Hi there!

Ready to cook your digital content with us?

Contact Us Now
Whatsappp Sharing