3 Tren Media Sosial 2021, Yuk Bersiap!

By Rinaldy Sofwan Fakhrana,

15 March 2021

New year, new strategy. Bukan untuk diri kita pribadi saja, awal tahun selalu jadi waktu yang baik untuk setting up a new goal buat marketing efforts kita juga. Nah, salah satu cara terbaik untuk mempertahankan dan meningkatkan performance bisnis kita dalam hal ini adalah dengan staying up to date and relevant dengan audiens. Untuk itu, selagi masih di Q1 2021, kita sama-sama lihat prediksi social media trends tahun ini yuk!

Kalau diibaratkan kopi, 2020 kemarin itu seperti espresso bagi penderita maag. Selain membuat kita enggak bisa tidur karena harap-harap cemas dilanda pandemi, tahun kemarin juga meninggalkan aftertaste asam yang terbawa hingga saat ini. Meski sekarang sebagian dari kita sudah mulai keluar rumah untuk beraktivitas, rasa khawatir tentu masih bisa dirasakan dan semua rutinitas masih mesti dilakukan dengan protokol yang ketat sementara proses vaksinasi berjalan. 

Tetapi yang patut dicatat oleh brands serta social marketing agencies adalah kebiasaan-kebiasaan yang terbangun oleh audiens saat masa-masa isolasi penuh tahun lalu pun diperkirakan masih akan terbawa hingga 2021 ini. Dikutip Datareportal, Akamai melaporkan bahwa traffic internet global tumbuh sebesar 30 persen di pertengahan tahun lalu. Di saat yang sama, GlobalWebIndex juga menunjukkan kalau kita semua menghabiskan waktu lebih banyak menggunakan peralatanyang terhubung ke internet jika dibandingkan dengan di awal 2020. Dengan perubahan behavior ini, tentunya sudah enggak aneh lagi kalau penggunaan media sosial pun jadi meningkat. 

Hal ini jelas membawa peluang sekaligus tantangan buat kita digital marketers. Bagaimana caranya memanfaatkan lonjakan aktivitas dunia maya ini? Penyesuaian strategi apa yang perlu dilakukan? Berikut tiga prediksi penting yang kami rangkum untuk Anda pertimbangkan dalam menyusun rencana sepanjang 2021:

1. Peningkatan User-Generated Content dan Influencer Marketing

Menurut Shopify pada September 2020, sebanyak 84% konsumen mengaku belanja online sejak pandemi dimulai dan 79% bahkan menyatakan akan terus rutin melakukan kebiasaan ini hingga enam bulan ke depannya. Seperti yang kami singgung sebelumnya, hal ini menunjukkan kalau kebiasaan tahun lalu akan terbawa hingga 2021. Menariknya, di saat yang sama dalam penelitian lain, sebanyak 75% konsumen menyatakan kalau mereka enggak percaya dengan iklan.  

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari hal tersebut? Di saat audiens enggak bisa berinteraksi tatap muka, pergi ke toko, dan mempercayai iklan, mereka akhirnya bergantung pada media sosial untuk menentukan purchase decisions, baik itu dari unggahan teman-teman dan keluarga, maupun influencers. 

Bercermin dari fenomena ini, Anda bisa mulai menaruh lebih banyak perhatian pada user-generated content dan influencer marketing di tahun ini. Hal ini memang bukan sesuatu yang baru, tetapi berbagai sumber seperti PR Daily dan Influencer Marketing Hub pun sepakat memprediksi trennya akan meningkat.

Untuk mengaplikasikan UGC dalam pelaksanaan social media marketing bagi brand, Anda pun dapat mempelajari pengerjaan dan contohnya dari Bear Brand Indonesia yang menjalankan kampanye #2021stronger di Instagram. Melalui kampanye tersebut,  Bear Brand Indonesia mengajak para konsumennya untuk berbagi kisah inspiratif mereka yang berhasil bertahan bahkan tetap produktif di tahun 2020 sekalipun berada di tengah situasi pandemi COVID-19 hingga mereka pun siap menjalani tahun 2021 dengan lebih kuat lagi.

Buat kami, campaign ini bukan hanya menarik, namun juga bermakna. UGC yang berjalan bukan sekadar mempromosikan produk Bear Brand, tetapi juga menawarkan kekuatan dan value bagi setiap mereka yang melihatnya.

Kemudian, untuk menjalankan influencer marketing, Anda pun enggak perlu khawatir jika harus bekerja sama dengan micro-influencers, bukan dengan mega- atau macro-influencer. Bahkan brand sebesar Coca Cola saja menggandeng Elie Mudiayi (28,4K followers saat artikel ditulis), health influencer asal Belgia yang mungkin Anda baru mendengar namanya.

Dari satu unggahanan ini saja, Elie bisa mendapatkan 1.024 likes dan 30 komentar dalam hitungan dua hari. Dan berdasarkan penelusuran kami, seenggaknya Elie sudah mempromosikanCoca Cola sejak 2018. Ia Rajin meng-upload foto-fotonya memegang kaleng atau botol Coca Cola dengan hashtag #CokeAmbassador, #CocaColaBelgium dan #TasteTheFeeling yang merupakan campaign brand minuman ringan tersebut.  

Terbayang enggak bagaimana potensi engagement yang bisa Anda dapatkan dari kerja sama dengan influencers di tengah kondisi seperti ini? 

2. Konten Video Lebih Booming

Kami sudah pernah bilang kalau visual storytelling itu penting, and we stand by it, terlebih ketika pandemi membuat kita normalize menggunakan media video via internet. Mulai dari nonton film hingga pertemuan virtual, kebiasaan baru ini membuat kita semakin terbiasa melihat layar dalam waktu yang lama. 

Di media sosial pun trennya hampir sama. Misalnya, menurut analisis SocialInsider, kebanyakan users lebih cenderung meng-skip Instagram stories yang berupa foto ketimbang video. Dan kebiasaan ini konsisten pada akun dengan <10k, <100k, dan >100k followers.  Selain itu, dikutip Influencer Marketing Hub, sebuah penelitian oleh Cisco menunjukkan kalau di tahun 2022, 82% dari seluruh konten online yang beredar akan berupa video. Jadi, kalau Anda belum siap-siap investasi di konten gambar bergerak ini, lebih mulai dari sekarang, deh.

Source: SocialInsider

Kalau Anda enggak yakin bisa memproduksi dan menjalankan video marketing campaign sendiri, hubungi saja social media atau digital marketing agencyseperti kami untuk memulai. Sama seperti Mountain Crest Gardens yang bekerja sama dengan BigCommerce dan Animoto, misalnya. Bisnis keluarga asal California itu sebelumnya cuma mengandalkan Google search dan sesekali boost di Facebook. Tetapi tanpa bekal pengalaman, mereka bisa memulai social video campaign dengan mudah.

Video yang dibuat relatif pendek, dengan durasi mulai dari 14 hingga 21 detik, dalam format square agar cocok diterapkan di Facebook dan Instagram. Isinya pun sederhana, hanya quotes yang shareable dan testimoni pelanggan. Menggunakan konfigurasi Facebook Pixel, perusahaan tersebut melihat sejumlah pembelian yang didapatkan dari campaign.

Memang enggak ada angka yang diungkap, tapi BigCommerce mengklaim effort ini “sukses di berbagai lini.” Selain itu, cost per impression yang dikeluarkan diklaim 4x lebih murah, dan cost per click pun 2x lebih rendah ketimbang campaign Google yang biasa dilakukan. Menarik, kan? Kalau mau lihat video dan penjelasan lengkapnya, bisa Anda lihat di sini ya

3. Live Streaming Masih Akan Berlanjut

Tren yang ketiga ini masih ada hubungannya dengan video. Pernah nggak Anda bertanya-tanya kenapa surat kalah dengan telepon? Kenapa koran kalah dengan radio dan televisi? Kenapa SMS kalah dengan instant messaging? Ya, walau enggak pernah terpikirkan Anda pasti sudah tahu jawabannya. Kita memang haus akan interaksi instan. Itulah juga kenapa acara-acara penting biasanya disiarkan live.

Karena itu, bukan sekadar konten video yang berupa rekaman, tetapi tren live streaming pun akan terus melonjak. Anda mungkin sekarang sudah nggak aneh lagi ketika melihat postingan Instagram Live dari berbagai brand. Toh, bahkan acara pernikahan saja sekarang disiarkan lewat live streaming. Di tengah lockdown di Italia tahun lalu, tercatat views postingan Facebook dan Instagram Live meningkat 100% dalam waktu sepekan. Dan seiring kita semakin terbiasa mengonsumsi tipe konten seperti ini, diprediksi kalau trennya hanya akan terus meningkat. 

Label musik house asal London, Defected Records, sudah “rajin” melakukan live streaming DJ set di Facebook Live, sejak 2016 lalu. Jumlah views-nya fluktuatif, dan jarang menembus angka 50 ribu. Dengan performa yang mirip-mirip, Buzzfeed akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Facebook Live dan beralih ke Twitch. So it’s safe to say kalau jumlah penonton ini enggak memenuhi standar brand lain. Tapi mereka lanjut terus dan menuai hasil saat semua orang terpaksa mengisolasi diri.

Pada Maret 2020, salah satu live stream Defected Records mendapatkan 977.739 views, jauh lebih tinggi dari postingan sebelumnya yang hanya disaksikan 18 ribu orang. Setelah itu, mereka kembali mendapatkan jumlah penonton yang impressive di angka 867.987. Trennya kemudian mulai melambat seiring kondisi pandemi mulai membaik, tapi, most of the time, mereka tetap konsisten menembus 50 ribu views hingga memasuki Januari 2021. 

“Orang-orang dari seluruh dunia membicarakan live feed kami dan tidak banyak tempat lain seperti Facebook Live di mana Anda bisa mengumpulkan banyak orang di satu konten Anda secara bersamaan,” kata James Kirkham, Chief Business Officer Defected Records. Dia juga mengatakan akan terus membuat konten live stream di Facebook Live, YouTube dan twitter.

Apakah terbitnya live stream akan mengulangi redupnya koran akibat kemunculan radio dan televisi? Hmm, mungkin, suatu hari nanti. Tetapi yang jelas, Anda sudah wajib mengantisipasi peningkatan trennya di 2021 ini.

Giliran Anda

Ketiga hal ini bisa dibilang seperti teknologi video conference--sesuatu yang sudah lama kita kenal, tapi mungkin enggak cukup kita manfaatkan. Baru karena dihadapkan dengan situasi saat ini akhirnya kita wajib meeting secara online setiap hari. Padahal, Skype saja sudah didirikan sejak hampir dua dekade yang lalu.  

Anyway, buat Anda yang sudah terbiasa membuat ketiga tipe konten di media sosial, kami ikut senang karena kami rasa Anda akan sukses melalui 2021. Tetapi jika ini merupakan sesuatu yang baru untuk Anda, tidak perlu khawatir karena kami sudah “curi start” melakukan semuanya dan siap membantu Anda melakukan hal yang sama. Cukup hubungi kami, dan kita bisa ngobrol tentang segala sesuatunya in no time. 

Storytellers kami di sini sudah siap menjalani 2021, dan sekarang giliran Anda. Good luck!

Related Articles

Content Marketing

B2C vs B2B Marketing, 3 Perbedaan yang Harus Marketer Pahami

B2C dan B2B marketing adalah dua istilah yang sudah sangat fimiliar di dunia marketing, terlebih bila Anda adalah seorang marketer. Nah dalam artikel kali ini akan dibahas mengenai perbedaan keduanya dari sisi strategi pemasaran, platform pemasaran, dan approach ke audiens.

Content Marketing

Brand Persona dan Buyer Persona, Mengapa Keduanya Penting?

Sebelum menjalankan marketing campaign, seorang content strategist akan menetapkan terlebih dahulu brand persona dan buyer persona. mengapa penting bagi sebuah brand untuk memiliki brand persona dan buyer persona sebelum aktif melakukan kegiatan pemasaran?

Content Marketing

Bikin Livestream Video? Marketer Harus Catat 3 Hal Ini!

Content marketing dalam bentuk livestream video diprediksi atau mungkin lebih tepatnya kini sudah menjadi suatu tren dalam menjalankan pemasaran brand di dunia digital. Bagaimana dengan Anda, apakah brand Anda lagi mempertimbangkan konten livestreaming sebagai content strategy atau social media strategy tahun ini?

Browse Other Categories

We are your teammates.

We're never just another agency, we're your teammates, providing you with everything needed on the pitch of digital marketing.

Servicesarrow_forward

Hi there!

Ready to cook your digital content with us?

Contact Us Now
Whatsappp Sharing