Bikin Storytelling Makin Ciamik dalam Content Marketing

By Eunike Rina,

19 May 2020

Content marketing is everywhere.Di era digital seperti saat ini, content marketing telah menjadi salah satu strategi pemasaran paling populer, karena mampu meningkatkan web traffic, brand awareness, dan penjualan produk. Para CMO di AS saja berencana menyiapkan budget hingga 119 milyar dolar AS untuk content marketing pada tahun 2021. Tapi kalau kita mau bicara secara global, maka hasil riset B2B Content Marketing Institute 2020 menyatakan bahwa rata-rata perusahaan menyiapkan budget tahunan senilai 185.000 dolar AS untuk melaksanakan content marketing saat memasuki tahun 2019.  

Oleh Content Marketing Institute, content marketingdidefinisikan sebagai:

A strategic marketing approach focused on creating and distributing valuable, relevant, and consistent content to attract and retain a clearly defined audience — and, ultimately, to drive profitable customer action.”

 

Keberhasilan content marketing dalam dunia digital marketingtentu saja dipengaruhi oleh banyak faktor, dan kami percaya penggunaanstorytellingyang baik bisa menjadi salah satu faktornya. Storytelling dalam content marketing dapat menjadikannya menarik untuk disimak, mengingat kita sebagai manusia pada dasarnya senang berbagi cerita.

Nah, bagaimana cara meningkatkan storytelling game dalam content marketing untuk brand Anda? Berikut tiga cara yang sering kami lakukan:

1. Relatable dan Relevan

Anda berkompetisi dengan ribuan pemasar di luar sana, mereka juga sedang berusaha untuk mendapatkan perhatian dari para audiens yang sama. Maka dari itu, semakin relatable dan relevan sebuah konten bagi audiens Anda, maka semakin baik. Soal ini, kita bisa belajar dari Gojek lewat berbagai advertising campaign-nya (2017-2018) yang berhasil menjangkau 50 juta audiens dan mendapatkan 120 juta impresi di platform digital. Salah satunya adalah #LifeWithoutLimits (2017).

Apa sih makna dari #LifeWithoutLimits? Beberapa definisi dari Gojek adalah attending a meeting without being late (tenang ada GoRide), arriving without driving (pesan saja GoCar), buying martabak without queuing (tinggal GoFood saja), atau forgetting stuff without panicking (karena ada GoSend). It’s relatable for our daily lives, right? Especially for us as marketers yang enggak bisa lembur tanpa martabak. Campaign ini pun berkontribusi atas penambahan 1,7 juta user aplikasi gojek dan peningkatan monthly growth untuk first booking sebanyak 42,6%.

2. Berkualitas 

Ibarat snack, isinya jangan angin doang. Berkualitas di sini artinya konten Anda dapat mengedukasi atau menginspirasi para penikmatnya. Sharing is caring, bagaimanapun Anda pasti punya kepedulian yang besar terhadap konsumen Anda dan ingin tumbuh bersama mereka melalui brand Anda. Tokopedia pun melakukannya lewat campaignSeller Story”.

Seller Story adalah rangkaian video di YouTube yang merangkum berbagai kisah inspiratif dari para seller Tokopedia: Bagaimana keseharian mereka dan bagaimana mereka memulai bisnis. Melaluinya, kita bisa belajar untuk berani memulai sesuatu dan menemukan makna sukses di kehidupan kita. 

Ada kisah Bapak Fredy, pebisnis aksesori berbahan kulit yang menemukan peluang usaha dari kesalahannya membeli bahan. Daripada rugi, ia pun mencoba untuk membuat dompet atau passport cover dari bahan kulit yang terlanjur dibelinya, dan ternyata banyak peminatnya. Atau kisah Ibu Qori, pebisnis pet bed dan pet toy yang mengalokasikan keuntungan bisnisnya untuk menolong hewan terlantar. Sejauh ini dengan last update di awal tahun 2020, sudah terkumpul lebih dari 80 video inspiratif dengan belasan ribu sampai jutaan penonton.

3. Melibatkan Audiens

Tak lupa, Anda juga dapat menggunakan storytelling untuk melibatkan audiens. Anda bisa mengajak mereka untuk bertanya, memberikan opini, atau melakukan aktivitas tertentu. Contohnya seperti yang dilakukan McDonald’s Kanada melalui campaign “Our Foods. Your Questions” (2012). 

Lewat campaign ini, McDonald’s menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh para konsumennya pada sebuah laman khusus dalam situs resminya. Pertanyaannya begitu beragam dan beberapa di antaranya dijawab dengan unggahan video di YouTube, misalnya: Is 100% real beef a fact, or (is it just) a company (branding)?

Untuk menjawabnya, McDonald’s Kanada menunjukkan Lewis Farms yang telah memproduksi daging sapi selama puluhan tahun untuk masyarakat Kanada. Dari peternakan tersebut, kita menuju tempat pengolahan daging bernama Cargill untuk melihat, bagaimana mereka mengolah daging sapi dari peternakan menjadi patty untuk McDonald's Kanada tanpa bahan tambahan apa pun.  So, 100% real beef is a fact! 

Hasilnya? Berkat kejujuran, transparansi, dan upaya untuk melibatkan para konsumennya, McDonald’s Kanada sukses membangun kepercayaan mereka terhadap brand-nya juga mematahkan segala rumor buruk yang beredar mengenai kualitas, pengolahan, dan pengemasan makanannya. Dari total 13 video yang diunggah, paling sedikit mendapatkan 147.000 penonton dan paling banyak mendapatkan 12 juta penonton. Campaign serupa pun sempat diikuti oleh McDonald’s Australia dan McDonald’s AS.

Hal penting lain yang perlu Anda ingat, penggunaan content marketing itu akan menjadi sebuah perjalanan yang penuh dengan tantangan. Kadang pas, kadang pula belum tepat. Jadi, jangan bosan untuk terus mencoba, mengulangi, dan kemudian lakukan evaluasi dan penilaian hingga Anda menemukan formula content marketing yang tepat bagi konsumen Anda. 

Need help with content marketing and storytelling? Contendr pun berupaya menjadi kawan terbaik bagi brand Anda dalam pembuatan creativecontent marketing yang berkualitas berdasarkan kebutuhan bisnis dan target konsumen Anda. Langsung klik di sini ya untuk melihat services apa saja yang kami tawarkan.

Contact us now for we’re so ready to cook your ideas and turn them into a tasteful storytelling!

Related Articles

Content Marketing

B2C vs B2B Marketing, 3 Perbedaan yang Harus Marketer Pahami

B2C dan B2B marketing adalah dua istilah yang sudah sangat fimiliar di dunia marketing, terlebih bila Anda adalah seorang marketer. Nah dalam artikel kali ini akan dibahas mengenai perbedaan keduanya dari sisi strategi pemasaran, platform pemasaran, dan approach ke audiens.

Content Marketing

Brand Persona dan Buyer Persona, Mengapa Keduanya Penting?

Sebelum menjalankan marketing campaign, seorang content strategist akan menetapkan terlebih dahulu brand persona dan buyer persona. mengapa penting bagi sebuah brand untuk memiliki brand persona dan buyer persona sebelum aktif melakukan kegiatan pemasaran?

Content Marketing

Bikin Livestream Video? Marketer Harus Catat 3 Hal Ini!

Content marketing dalam bentuk livestream video diprediksi atau mungkin lebih tepatnya kini sudah menjadi suatu tren dalam menjalankan pemasaran brand di dunia digital. Bagaimana dengan Anda, apakah brand Anda lagi mempertimbangkan konten livestreaming sebagai content strategy atau social media strategy tahun ini?

Browse Other Categories

We are your teammates.

We're never just another agency, we're your teammates, providing you with everything needed on the pitch of digital marketing.

Servicesarrow_forward

Hi there!

Ready to cook your digital content with us?

Contact Us Now
Whatsappp Sharing