Teknik Visual ala Graphic Designer dalam Content Marketing

By Arista Prianka Putri,

09 July 2020

Keberadaan visual dalam content marketing bisa menjadi daya tarik tersendiri lho dalam pemasaran digital di berbagai platform yang ada. Penggunaan visual yang tepat dapat menjadi cara ampuh agar audiens mau berhenti scrolling dan mencari tahu isi dari sebuah konten. Dengan begitu, konten tersebut punya peluang lebih besar untuk mencapai tujuan pembuatannya, entah itu untuk meningkatkan brand awareness dan engagement, jualan produk, atau ajakan mengikuti sebuah challenge.

Graphic designer kami, Medy Ardita beranggapan:

“Visual dalam konten itu layaknya cinta pada pandangan pertama: Dari mata jatuh ke hati. “

 

Well, if you learn about visual perception, then you’ll know that we actually see with our brain. Mata hanyalah “alat” untuk melihat, tetapi otak kitalah yang memproses informasi dari apa yang kita lihat dan ternyata, pada dasarnya kita akan mudah tertarik pada sesuatu hal yang “beda” atau unik menurut otak kita. Makanya selain meaningful, visual pada sebuah konten juga perlu eye catching dan punya kemampuan stopping power. Nah, dari sekian banyak teknik visual yang ada untuk keperluan content production, Medy pun coba berbagi keunggulan dari dua teknik visual andalannya dalam content marketing.     

Digital Collage Art / Cut and Paste

Teknik yang satu ini pada dasarnya adalah seni kolase yang menggunakan teknologi digital. Jadi, graphic designer bakal menggunakan perangkat digital yang dibantu software tertentu untuk mengumpulkan beberapa gambar, memotong, dan menyatukannya hingga menjadi karya artistik. Berikut beberapa contoh dari Medy:

Digital Art Collage Visual #1 by our in house team, Medy Ardita

 

Digital Art Collage Visual #2 by our in house team, Medy Ardita

 

Digital art collage juga sering disebut dengan teknik Cut and Paste, malah istilah ini yang lebih familier, karena potongan-potongan gambar yang terkumpul benar-benar hasil cut and paste saja. Setelah terkumpul, barulah graphic designer dapat menentukan ukuran, warna, dan posisi gambar sesuai dengan keinginannya.

Sebagai gambaran singkat mengenai proses pembentukan digital art collage, coba Anda perhatikan GIF berikut: 

The hatch takes on youth, buoyancy, and urbanism
Digital collage artist: Marco Vannini

 

GIF tersebut adalah bagian dari konten video “MINI 201 DRIVE MINI. LIVE MAJOR” dalam akun YouTube Colm Quinn MINI. Melaluinya, MINITM Irlandia ingin mengedepankan moto “drive mini, live major” sekaligus menunjukkan spirit dari koleksi mobilnya.

Digital Imaging

Teknik visual berikutnya adalah Digital Imaging (DI) atau dikenal juga sebagai Digital Imaging Processing. Digital imaging merupakan proses mengolah gambar dari dokumen asli menjadi digital file dalam bentuk pixel. Lebih dari sekadar menggabungkan gambar-gambar, teknik visual ini juga bertujuan untuk menyempurnakan gambar, menambahkan objek, mengganti background, sampai memberikan efek dramatis sehingga visual terlihat real dan lebih “hidup”. Beberapa contoh karya dari Medy adalah sebagai berikut:

Digital Imaging Visual #1 by our in house team, Medy Ardita

 

Digital Imaging Visual #2 by our in house team, Medy Ardita

 

Dengan penerapan digital imaging, Anda bisa mendapatkan hasil visual yang tidak mampu ditangkap oleh kamera atau alat rekam lainnya bahkan merealisasikan ide atau imajinasi liar Anda ke dalam visual. 

Misalnya pada contoh digital imaging visual #1, di mana kami sempat bekerja sama dengan Frisian Flag Indonesia untuk memproduksi content marketing-nya di platform Instagram. Dengan kamera biasa, tentu saja Anda enggak bisa mendapatkan tampilan visual seperti itu. Namun dengan penerapan digital imaging, apa pun jadi mungkin dan terlihat real. Semakin menarik karena tanpa kata-kata sekalipun, Anda mungkin sudah bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan melalui visual tersebut, seperti nikmatnya susu Frisian Flag rasa coconut delight atau susu Frisian Flag rasa kacang hijau terbuat dari susu segar berkualitas.  

Gambaran singkat dari proses penerapan digital imaging bisa Anda simak melalui GIF berikut:

Nutri Project by TungDao (DI artist) and Eric Huynh (photographer)

 

Untuk mengerjakan proyek Minute Maid nutri boost ini, sang designer memulainya dengan foto sebuah ladang kosong. Kemudian ia mengombinasikannya dengan beberapa foto lain, seperti perkebunan jeruk, keranjang jeruk, dan sebilah kayu. Setelah itu, foto produk baru dimasukkan dan sebagai pemanis, ditempelkan pula potongan buah jeruk pada produknya.  It looks smooth and real, right? 

Oke, setelah mendapat gambaran tentang dua teknik visual di atas, apakah Anda semakin mantap untuk memanfaatkan konten visual dalam memasarkan brand Anda?

Bicara kembali soal peran visual, Anda juga perlu tahu bahwa faktanya otak kita memproses 90% informasi dalam bentuk visual dan 60.000 kali lebih cepat memproses gambar ketimbang teks. Bahkan dalam situs resminya, digital entrepreneur Jeff Bullas merangkum beberapa riset dan salah satu poinnya adalah artikel yang menampilkan gambar mendapat 94% lebih banyak pembaca ketimbang artikel tanpa gambar.

Makanya kalau brand Anda masih ingin terus bersaing mendapatkan perhatian audiens di luar sana, penerapan konten visual dalam pemasaran digital sudah sepatutnya menjadi pertimbangan penting.

So, need help with your content visual?Contact us now! Sebagai boutique content marketing agency di Jakarta, kami siap mengeksplorasi berbagai teknik visual dan mengombinasikannya dengan storytelling yang menarik sesuai dengan tren content marketing terkini dan kebutuhan target audience dari brand Anda. 

Siap berkolaborasi dengan kami? Yuk langsung kunjungi laman service kami!

Related Articles

Content Marketing

B2C vs B2B Marketing, 3 Perbedaan yang Harus Marketer Pahami

B2C dan B2B marketing adalah dua istilah yang sudah sangat fimiliar di dunia marketing, terlebih bila Anda adalah seorang marketer. Nah dalam artikel kali ini akan dibahas mengenai perbedaan keduanya dari sisi strategi pemasaran, platform pemasaran, dan approach ke audiens.

Content Marketing

Brand Persona dan Buyer Persona, Mengapa Keduanya Penting?

Sebelum menjalankan marketing campaign, seorang content strategist akan menetapkan terlebih dahulu brand persona dan buyer persona. mengapa penting bagi sebuah brand untuk memiliki brand persona dan buyer persona sebelum aktif melakukan kegiatan pemasaran?

Content Marketing

Bikin Livestream Video? Marketer Harus Catat 3 Hal Ini!

Content marketing dalam bentuk livestream video diprediksi atau mungkin lebih tepatnya kini sudah menjadi suatu tren dalam menjalankan pemasaran brand di dunia digital. Bagaimana dengan Anda, apakah brand Anda lagi mempertimbangkan konten livestreaming sebagai content strategy atau social media strategy tahun ini?

Browse Other Categories

We are your teammates.

We're never just another agency, we're your teammates, providing you with everything needed on the pitch of digital marketing.

Servicesarrow_forward

Hi there!

Ready to cook your digital content with us?

Contact Us Now
Whatsappp Sharing