4 Kegiatan Fangirl(boy)ing yang Hemat dan Bermanfaat

06 March 2020

Fangirling atau fanboying adalah salah satu kegiatan yang paling menguras uang, waktu, dan tenaga. Uang utamanya, nggak bisa dipungkiri kalau menjadi bagian dari suatu fandom adalah kegiatan yang sangat konsumtif. Rasa-rasanya menjadi fangirl atau fanboy nggak akan pernah kaya karena uang tabungan selalu terpakai untuk membeli album keluaran baru atau photocard Oppa. Belum termasuk anggaran konser dan fanmeeting yang bisa berjuta-juta—apalagi kalau mengejar konser pujaan hati di luar negeri, harus ditambah tiket pesawat dan akomodasi. 

Pusing kan? 

Penyuka anime pun sama saja. Kalau belum memiliki merch official Sega, belum lega rasanya. Sisen baru, judul anime baru, cosplan (rencana cosplay) karakter baru, itu juga sudah biasa. Tahu-tahu uang jajan dan gaji bulanan kita hanya mentok sampai tanggal 5.

Menjadi seorang fans memang memakan biaya dan daya, tapi apakah kegiatan fandom melulu tentang kalap dan menghambur-hamburkan uang seperti anak sultan? Enggak juga. Kenyataannya, banyak kegiatan lain dalam fandom yang murah tapi berfaedah. Aktifitas-aktifitas ini dapat menjadi ladang penghasilan, tempat untuk mengembangkan potensi diri, dan wadah untuk berkontribusi kepada masyarakat. Berikut beberapa kegiatan fandom yang asik, produktif, dan nggak membuat kantong tercekik.

  1. Berkarya lewat fanwork

Fanwork atau karya buatan fans tentang kegemarannya punya banyak jenis dan bentuk seperti fanfiction (tulisan), fanart (ilustrasi), dan fanvideo (audiovisual). Berbeda dengan album dan official merchandise yang dikeluarkan oleh perusahaan, fanwork dapat kita buat sendiri hanya dengan bermodalkan laptop yang sudah ada di rumah. Selain menghemat biaya ‘asupan’ dan mendatangkan kebahagiaan tersendiri, berkarya lewat fanwork dapat mengasah skill dan kreativitas kita. Sebagai contoh nyata, penulis merupakan author fanfiction sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi mahasiswa di jurusan Sastra Inggris.

  1. Menjadi fantrepreneur

Karya-karya bertemakan serial atau musisi favorit kita dapat diubah menjadi peluang usaha. Gambar ilustrasi BTS yang kita buat misalnya, dapat dicetak menjadi poster, gantungan kunci, atau t-shirt yang memiliki nilai jual tinggi. Di era digital seperti sekarang ini, mencari pembeli bisa dari mana saja. Kita dapat memanfaatkan media sosial dan situs belanja daring untuk memasarkan produk.

Selain itu, banyak fan creator yang menghadiri pasar kreatif seperti Comic Frontier dan Creator Super Fest yang diadakan setiap tahunnya. Contoh lain adalah mempublikasikan fanfiction lewat penerbit menjadi sebuah novel yang dapat mendatangkan penghasilan. Sebagai referensi, novel terkenal Fifty Shades of Grey karya E.L. James merupakan fanfiction dari Twilight series yang kemudian mengalami pergantian nama-nama karakter. 

Masih banyak jenis-jenis usaha lain berbasis fandom seperti online shop Korea, jasa titip belanja, sampai jasa terjemahan manga. Intinya, selalu ada jalan mencari uang, bahkan di tempat boros seperti fandom sekali pun.

"Dengan mengubah pola pikir kita yang konsumtif menjadi produktif, menjadi bagian dari fandom tertentu nggak selalu harus merogoh kocek dalam-dalam."

 

  1. Fan activism

Menjadi fans nggak selalu tentang membelanjakan harta untuk membahagiakan diri sendiri, karena kebahagiaan bisa datang dari berbagi dengan orang lain. Dari situ muncullah kegiatan aktivisme yang dilakukan fans dalam sebuah komunitas untuk turut terlibat dalam masyarakat. Hal ini dilakukan oleh teman-teman komunitas cosplay @comealive.id dengan mengunjungi anak-anak yang sedang di rawat di rumah sakit di Jakarta. Kunjungan mereka lengkap dengan kostum dan

atribut Avengers dan Disney Princess melalui kegiatan Cospitality telah menghadirkan kegembiraan bagi para pasien. 

Selain itu, Harry Potter Alliance (HPA) yang memiliki lebih dari 100.000 member merupakan contoh fan activism paling ternama di dunia yang sukses mengusung program Doctors for Health, Free Press, dan Gay-Straight Alliance. Lewat fan activism, kita bisa sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampau: bersenang-senang, menjadi bagian dari perubahan, dan yang paling penting nggak menghabiskan uang untuk hal sia-sia.

  1. Riset tentang fandom

Nggak banyak orang tahu bahwa fandom merupakan lahan produktif untuk riset sosial, budaya, media, politik, agama, gender, dan lain sebagainya. Adalah cendekiawan dan profesor asal Amerika Serikat, Henry Jenkins, yang mempopulerkan studi fan (fan studies) dan menggunakan istilah ‘aca-fan’ di akhir dekade 1990-an. 

Aca-fan atau Academic-Fan mengacu pada seseorang yang merupakan akademisi namun di sisi lain juga seorang penggemar media populer. Keberadaan aca-fan dan munculnya banyak tulisan ilmiah yang mengusung topik fandom mendobrak stereotip bahwa fans adalah penonton pasif (passive audience) yang hanya bisa menikmati dan terobsesi pada suatu hal. 

Saat ini sudah mulai banyak teori-teori inovatif dan penelitian berkaitan dengan fandom di dunia akademisi berbahasa Inggris. Di Indonesia sendiri, hal ini belum banyak diminati oleh pelajar dan peneliti di perguruan tinggi. Jika kita tergabung dalam suatu fandom, teman-teman kita bisa menjadi responden penelitian yang valid. Topik apa yang akan dibahas? Apapun bisa.

Salah satu artikel jurnal yang penulis baca bahkan membahas identitas religius fans Boys Love atau fujoshi (perempuan yang menyukai anime/manga tentang hubungan percintaan sesama laki-laki) di Indonesia, Malaysia, dan Philippines. Artikel ilmiah yang kita buat selanjutnya dapat dikirimkan ke perusahaan media daring, berpartisipasi dalam konferensi akademik, atau didaftarkan untuk research grants atau sponsorship.

Sampai disini bisa disimpulkan bahwa menjadi bagian dari fandom tertentu nggak selalu harus merogoh kocek dalam-dalam. Dengan mengubah pola pikir kita yang konsumtif menjadi produktif, ada banyak alternatif kegiatan yang dapat dilakukan yang nggak kalah serunya dengan menghadiri hand-shake event dan belanja koleksi BT21 di Line store. Dengan membuat fanwork, berjualan online, kampanye sosial, dan melakukan penelitian ilmiah, kita bisa dengan bangga mengumumkan identitas kita sebagai fangirl atau fanboy yang kaya dan berdaya guna bagi komunitas dan orang-orang sekitar.

Related Articles

Mencari Bakat Terpendam Nggak Pandang Umur

Biasanya sih kata-kata itu dilontarkan oleh orang tua saat kita masih kecil. Makanya, banyak orang tua yang mengikutsertakan anaknya ke kelas-kelas edukasi informal seperti les musik dan kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan minat dan bakat anaknya masing-masing. Kenyataannya, menemukan bakat terpendam kita itu nggak kenal umur, lho! Bisa aja setelah dewasa, lo baru tau kalau punya bakat terpendam.

Nih, 4 Alasan Masuk Akal Biar Rajin Masak!

Budayakan memasak sendiri makanan kita. Sibuk dan nggak ada waktu? Bisa masak saat weekend dan membuat stok makanan seminggu kedepan. Kalau alasannya nggak bisa memasak karena nggak berbakat, itu sudah basi. Hari gini belajar memasak sudah segampang memencet tombol follow dan scrolling timeline instagram.

Pressure Itu Baik

Pressure yang kita terima dari masa kecil ternyata melatih mental, cara berpikir, emosi, juga fisik kita untuk menjadi pribadi yang lebih kuat sampai hari ini, bahkan melatih kemampuan problem solving kita.

Browse Other Categories