"Silicon Valley" ala Indonesia, Ide Bagus atau Sebaliknya?

04 May 2021

silicon valley

Belum selesai dengan mega proyek perpindahan ibu kota Indonesia yang akan pindah ke Kalimantan Timur, kembali muncul wacana proyek yang enggak kalah besarnya yakni kawasan pengembangan teknologi seperti Silicon Valley di Amerika Serikat (AS). Proyek yang diberi nama Bukit Algoritma itu bakal dibangun di Sukabumi, Jawa Barat, tepatnya terletak di Cibadak dan Cikidang. Di situasi kayak sekarang, apakah pembangunan Bukit Algoritma ini sebenarnya ide bagus atau hanya egoisme intelektual semata?

Rencananya, Bukit Algoritma bakal jadi pusat pengembangan industri dan teknologi 4.0 serta pengembangan sumber daya manusia. Industri dan teknologi yang dimaksud diantaranya kecerdasan buatan, pesawat nirawak, hingga panel surya untuk energi bersih dan ramah lingkungan. Dikutip dari Antara, proyek yang dipimpin oleh politisi PDIP Budiman Sudjatmiko ini akan menggarap lahan seluas 888 hektare dan nilai proyeknya diperkirakan bakal ngabisin Rp 18 triliun. Luar biasa bukan?

Biar pembangunan dari Bukit Algoritma ini makin lancar, PT Kiniku Bintang Raya sebagai inisiator Bukit Algoritma bekerja sama dengan perusahaan konstruksi BUMN PT Amarta Karya (Persero) untuk membangun infrastruktur seperti akses jalan raya, fasilitas air bersih, pembangkit listrik, gedung konvensi, dan fasilitas pendukung lainnya. Kawasan Bukit Algoritma akan dekat dengan akses tol Bocimi (seksi 2 Cibadak), Pelabuhan Laut Pengumpan Regional (PLPR) Wisata dan Perdagangan Pelabuhan Ratu, jalur ganda Kereta Api Sukabumi, dan Bandara Sukabumi yang akan segera dibangun.

Apa yang menarik dari Silicon Valley

Memang di Silicon Valley di Amerika sana ada apa sih sampai sepengen itu Indonesia mau buat duplikasinya? Yang pasti, Silicon Valley dikenal mencetak banyak perusahaan teknologi raksasa, mulai dari Apple, Facebook, Google, dan Netflix. Kawasan yang terletak di San Fransisco ini juga jadi tempat lahir perusahaan kayak Tesla, Twitter, Yahoo, dan eBay. Selain itu ada juga perusahaan-perusahaan besar lainnya seperti Cisco, Oracle, Salesforce, Hewlett-Packard, Intel, Adobe, hingga Zynga. Enggak heran kan nama Silicon Valley selalu ‘dicatut’ sama banyak negara buat bikin kawasan serupa, termasuk proyek Bukit Algoritma ini.

Salah satu alasan Silicon Valley menjadi kawasan yang berhasil adalah dengan banyaknya universitas, pusat penelitian, dan laboratorium. Ada juga akses ke venture capital yang memadai dan budaya entrepreneur yang berani ambil risiko. Yang paling keliatan sih, mayoritas perusahaan di Silicon Valley selalu melakukan integrasi antara inovasi dengan strategi bisnis, sehingga perusahaan bisa berkembang pesat.

Mimpi membangun “Silicon Valley” sudah sejak lama

Ayo kita bermain drinking game, berapa kali dari dulu Pemerintah mewacanakan ingin membangun semacam Silicon Valley di Indonesia? Pengembangan kawasan Silicon Valley AS di Indonesia sudah dimulai pada 2015 dengan nama program 100 Science & Techno Park, namun enggak ada yang tahu perkembangannya hingga saat ini seperti apa.

Bahkan kawasan Slipi di Jakarta Barat saja sempat diberikan julukan Slipicon Valley pada 6 tahun lalu, karena di sana banyak kantor startup yang lokasinya berdekatan, mulai dari Traveloka, Tokopedia (sebelum pindah ke Tokopedia Tower di Kuningan), Blibli.com, dan beberapa kantor venture capital seperti Kejora dan CyberAgent.

Bicara tentang kawasan yang mirip Silicon Valley, sebenarnya kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) City sudah hampir mendekati. Setidaknya ada tiga perusahaan teknologi digital besar sudah berkantor di BSD, seperti Apple melalui Apple Developer Academy, Grab, dan Traveloka. Masing-masing perusahaan ini telah membuat kantor research & development (R&D) di kawasan yang dikembangkan oleh Sinar Mas Land ini.

Enggak usah jauh-jauh ingin meniru kawasan Silicon Valley di Amerika. Indonesia sebenernya bisa meniru apa yang dilakukan Cina yang sukses bertransformasi dari negara berkembang jadi negara yang saat ini menguasai teknologi tinggi. Jauh sebelum sampai ke pencapaian hari ini, Cina konsisten memprioritaskan industri manufaktur dasar dan pendidikan sains. Keberhasilan Cina ini hasil dari proses panjang membangun ekonomi riil, padat karya, dan tepat guna sembari bener-bener serius menyiapkan SDM.

Kontroversi

Wah pas awal-awal berita tentang Bukit Algoritma ini muncul, linimasa media sosial rame banget kayak pasar sebelum lebaran, isinya ya sindiran ke proyek Bukit Algoritma ini dan tentunya serangan ke personal Budiman Sudjatmiko sebagai orang yang paling bertanggung jawab buat proyek ini. Menurut saya, wajar sih para warganet kesal, karena ketika infrastruktur dan SDM digital kita belum memadai, ujug-ujug muncul rencana proyek “Silicon Valley” dengan citarasa lokal.

Permasalahan di grass-roots seperti kebutuhan dan persediaan internet saja masih belum diberikan merata oleh Pemerintah, bagaimana mau mengakses informasi secara cepat atau mau menuju industry 4.0 seperti tujuan dari Bukit Algoritma ini. Itu baru dari aspek internet, belum ngomongin sampai akses ke teknologi hingga digital skill dari SDM.

Sebuah bangunan tanpa fondasi yang kuat bakal jadi hal sia-sia. Fondasi yang dimaksud bukan perpaduan cakar ayam, semen, beton, atau batu-bata ya yang sering dikerjain sama kuli proyek, tetapi fondasi infrastruktur digital dan aspek-aspek lainnya. Road map dan ekosistem proyeknya masih belum jelas atau belum terinformasikan dengan baik. Dikutip dari Antara, Institute of Development of Economics and Finance menyebutkan tiga tantangan dalam pembangunan Bukit Algoritma ini.

Yang pertama, ekosistem R&D di Indonesia yang masih sangat rendah yakni cuma 0,24% dari PDB. Kedua adalah sumber daya manusia di mana UNESCO mencatat jumlah peneliti di Indonesia adalah 216 orang dari 1 juta penduduk, ditambah komposisi proporsi penduduk yang mampu menggunakan komputer hanya 3,5% dari penduduk muda dan dewasa. Yang terakhir, adanya ketimpangan digital di mana sektor Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) hanya bisa dinikmati sepenuhnya di Pulau Jawa, yang berpusat di DKI Jakarta dan Yogyakarta. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pun menyebutkan baru 50% rumah tangga di perkotaan yang udah menikmati internet, sedangkan di pedesaan hanya 26,56%.

Khawatirnya, kalau hanya mengejar untuk membangun kawasan fisiknya tanpa memastikan kesiapan SDM, akan muncul kesenjangan lebar antara siapa saja yang bisa menikmati kemajuan yang diberikan oleh Bukit Algoritma ini. Cuma segelintir orang yang punya privilege yang bisa menikmati output ekonomi berbasis teknologi, sedangkan masyarakat yang enggak mampu mengakses cuma jadi penggembira dari gegap gempita industri 4.0.

Kalau memang mau tetep kekeuh mendirikan kawasan Silicon Valley seperti di California, yang harus diingat adalah Silicon Valley berkembang lebih dari 100 tahun karena kolaborasi komunitas hobbyist, entrepreneur teknologi, venture capital, dan divisi R&D yang bermarkas di Stamford dan UC Berkeley. Ekosistem yang sempurna inilah yang memunculkan inovasi dari analog ke digital, lalu ke big data, hingga yang terkini adalah self-drivingdata. Semua ekosistem ini bukan seperti Candi Prambanan yang dibangun oleh Bandung Bondowoso dalam semalem saja, melainkan dari proses yang panjang. Sama seperti warung makanan favorit Anda, ia berawal dari warung kecil kemudian besar hingga dikenal banyak orang, bukan karena dari modal besar.

Enggak bermaksud buat pesimis buat Bukit Algoritma ini, tetapi lebih ke realistis kalau berkaca pada konteks Indonesia saat ini. Bikin satu kompleks bangunan berisi teknologi dan pemikir canggih, enggak bisa jadi solusi atas kemunduran teknologi. Saya pun sebenarnya mengakui kalau idenya oke banget dan sangat visioner, apalagi potensi ekonomi digital Indonesia itu sangat menjanjikan dengan menjadi salah satu lumbung unicorn di antaranya Tokopedia, Traveloka, OVO, dan Bukalapak. Bahkan Gojek sudah masuk ke level decacorn dengan valuasi USD 10 miliar.

Tetapi buat sekarang lebih baik bangun ekosistemnya dulu sembari kasih subsidi pelatihan berkualitas yang bisa diakses kapan aja biar melahirkan tenaga ahli yang kompetitif. Online course sudah banyak kok, cuma ya gitu harga berlangganan internet buat sebagian orang masih lumayan mahal. Bisa kali ya dipangkas setengahnya atau setidaknya bikin tambah cepet. Mau menuju 4.0 tetapi kok kecepatan internet di Indonesia masih menjadi yang terendah di Asia Tenggara?

Intinya, menurut saya adalah pegang dan kuasai dasarnya dulu. Mau jualan ayam geprek, ya belajar dulu bikin sambalnya. Mau punya mobil, ya punya dulu garasinya. Jangan langsung lompat ke hal yang canggih kayak bikin kawasan pusat teknologi dan inovasi, namun jadi antitesis lingkungan sekelilingnya yang masih meraba apa itu digital dan internet.

Pembangunan fisik saja enggak akan pernah cukup buat visi sebesar pusat inovasi, tanpa ada kejelasan rencana dan ekosistem yang mendukung. Bukan enggak mungkin, pembangunan Bukit Algoritma akan mangkrak kayak banyak proyek gigantis Pemerintah lainnya. Pusat inovasi harus tumbuh dari ekosistem dari tingkatan terbawah, bukan dari lagu lama kaset kusut milik para pejabat yang mudah kepincut dengan jargon teknologi dan digitalisasi.

Kalau Anda, bagaimana? Sepaham dengan saya atau punya pemikiran lain tentang rencana pembangunan Bukit Algoritma ini? Semoga kita semua, terutama Pemerintah selalu mampu membuat keputusan secara bijak ya, bukan langsung ngegas sehingga biaya dan tenaga yang keluar enggak akan berakhir percuma. Amin!

Related Articles

Opinion

Tren Donasi Digital ala Milenial

Berdonasi secara online rupanya menjadi suatu tren tersendiri di kalangan masyarakat Indonesia. Bagaimana dengan Anda? Apa sih keuntungan dan safety tips yang perlu kita perhatikan jika ingin berpartisipasi dalam tren yang satu ini?

Opinion

Cegah Kekeliruan Informasi Vaksin, Google Hadirkan Panel Pencarian Khusus

Menerima berita hoax atau mengalami misinformasi mungkin masih terjadi di keseharian kita sampai hari ini. Makanya, kita harus cermat dalam menelaah sebuah berita. Kabar baiknya, niat kita untuk bisa mendapatkan informasi akurat dan tepercaya terutama terkait vaksin Covid-19 bakal didukung oleh Google melalui inovasi terbarunya. Langsung saja kita bahas bareng, ya.

Opinion

Zoom Fatigue, Kelelahan Habis Ikut Meeting atau Seminar Online

Di tengah situasi pandemi kayak begini, banyak kegiatan yang berubah menjadi pertemuan virtual. Kirain melakukan itu semua dari rumah dapat membuat hidup kita lebih happy. Tetapi, ternyata enggak juga, malah kadang terasa lebih lelah. Nah, Anda pernah mendengar istilah "zoom fatigue"? Yuk, kita kenali lebih jauh untuk mendapatkan alasan dari rasa lelah yang muncul setelah melakukan meeting online.

Browse Other Categories

We are your teammates.

We're never just another agency, we're your teammates, providing you with everything needed on the pitch of digital marketing.

Servicesarrow_forward

Hi there!

Ready to cook your digital content with us?

Contact Us Now
Whatsappp Sharing