Nih, 4 Alasan Masuk Akal Biar Rajin Masak!

06 March 2020

Suka nonton acara Masterchef? Sebagian besar orang pasti akan menjawab suka. Tapi kalau ditanya bisa masak atau nggak, jawabannya akan lebih variatif. Nggak sedikit orang menjawab bisa masak, tapi nggak percaya diri dengan rasanya. Ada juga mereka yang merasa nggak ada skill dan memilih untuk nggak mencoba. Beberapa prefer membeli makanan di luar karena rasa yang lebih enak dan anti ribet. 

Ada juga yang sudah bahagia dengan masakan Mama. Beberapa orang sudah familiar dengan lengkuas dan jahe sejak remaja, tetapi ada juga yang belum pernah menginjakkan kaki ke dapur dan nggak bisa membedakan antara panci dan penggorengan. Ada? Ada kok, teman saya sendiri. Saya sih tipe yang pertama, bisa masak tapi rasa suka-suka (karena rasa itu subjektif ya), hehe. Kalo kalian tipe yang mana nih?

Sebelum saya menjabarkan panjang lebar alasan teman-teman harus mulai belajar masak, saya mau cerita tentang masa kecil saya dulu dimana saya dibesarkan oleh seorang chef terbaik yaitu ibu saya sendiri. Nggak pernah jajan sembarangan, nggak kenal junkfood, dan selalu makan sayur dan buah setiap hari—yup, that’s me as a kid. Keluarga saya jarang sekali eat out karena Ayah selalu mengatakan masakan ibu jauh lebih enak daripada yang dijual di warung atau restoran. 

"Cooking is a skill, not a gift. You can always learn it!"

 

Saya yang pada saat itu berpikir akan terus bisa makan masakan rumahan dihadapkan dengan situasi sulit saat saya harus merantau dan kuliah jauh dari orang tua. Dari pengalaman bertahun-tahun hidup di berbagai macam tempat dan budaya, saya menyadari pentingnya skill memasak dalam kehidupan sehari-hari. Bisa masak adalah aset yang sangat menguntungkan karena…

  1.     Sehat

Dengan masak sendiri, kita bisa dengan leluasa mengontrol apa saja yang kita masukkan ke dalam makanan. Kita bisa menyesuaikan seberapa banyak garam, menghilangkan penggunaan zat aditif yang nggak sehat, memilih sayuran segar dan daging berkualitas, menentukan ukuran porsi dan lain sebagainya sesuai selera dan kebutuhan. 

Kebersihan juga lebih terjamin dibandingkan dengan membeli makanan di luar. Masakan yang kita buat sendiri dapat mengurangi konsumsi kalori dan berkontribusi terhadap penurunan berat badan secara umum. Saya pribadi sudah merasakan manfaat ini selama tinggal sendiri di kost dan apartemen. Jika berat badan saya sudah naik, itu artinya saya harus lebih sering memasak. Jadi, jika ingin sehat dan mengurangi lingkar pinggang, cobalah kurangi jajan dan perbanyak masak sendiri di rumah.

  1. Murah

Jujur alasan ini adalah yang paling saya suka. Dengan memasak, kita bisa menghemat hampir dari setengah pengeluaran sehari-hari. Sebagai contoh, harga seporsi makanan di restoran fast food di Indonesia berkisar antara 40-60 ribu rupiah. Jika kita membelanjakan uang tersebut untuk bahan-bahan seperti beras, ikan, dan sayur, dengan harga yang sama kita bisa membuat 3-4 porsi makanan. Jika kita melakukan ini setiap hari, saat akhir bulan tiba, sisa uangnya bisa salurkan untuk hobi atau ditabung untuk masa tua. Demi berhemat, yuk kurangi mager dan mulai masak sendiri.

  1.     Bahagia dan bebas stress

Sudah banyak penelitian yang mengaitkan memasak dengan tingkat kebahagiaan dan untuk mengatasi stress. Memasak merupakan proses kreatif yang membutuhkan fokus, dan saat kita menyelesaikan masakan kita, akan ada kepuasan tersendiri yang nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saya pribadi akan lebih sering memasak (dan makan) saat saya dilanda stress, untuk distraksi pikiran dan sebagai tempat untuk menyalurkan energi negatif. Di kala galau atau gabut saat weekend, mencoba resep baru bisa jadi alternatif kegiatan selain nonton netflix dan makan kuaci, loh.

  1. You can survive anywhere with cooking!

Saya disadarkan akan pentingnya keterampilan memasak untuk bertahan hidup oleh teman saya berinisial A. Ketika saya tinggal di sebuah kota di Jepang, tetangga dan teman kampus saya si A nyaris membakar habis apartemennya karena nggak tahu cara menggoreng telur. Si A yang berasal dari Afrika merasa kurang cocok dengan masakan Jepang dan ingin memasak makanan yang sesuai dengan lidahnya. A bercerita bahwa seumur hidup dia belum pernah memegang panci, nggak bisa membedakan minyak goreng dan teh hijau dalam botol. Entah karena budaya atau preferensi, semua laki-laki di keluarga A nggak pernah menginjakkan kaki di dapur dan hanya menyantap makanan yang sudah tersaji di meja. 

Saat itu saya menyadari bahwa you can literally get killed for not knowing how to cook. Segera setelah insiden tersebut, saya dan teman saya B rajin berkunjung ke apartment A untuk mengajarinya memasak. Sebulan kemudian saat kami bertamu lagi ke tempat A, dia sudah bisa memamerkan kare ayam buatannya sambil berkata “now I can live anywhere in the world cause I know how to cook”. Ya, asal nggak di gurun Sahara aja sih A. Nggak ada yang bisa dimasak juga, haha.

Sebenarnya ada segudang keuntungan memasak yang belum bisa saya sebutkan di artikel ini, kalau dilist semua bisa sepanjang bahan skripsi. Intinya adalah, budayakan memasak sendiri makanan kita. Sibuk dan nggak ada waktu? Bisa masak saat weekend dan membuat stok makanan seminggu kedepan. Kalau alasannya nggak bisa memasak karena nggak berbakat, itu sudah basi. Hari gini belajar memasak sudah segampang memencet tombol follow dan scrolling timeline instagram. Dan yang paling penting dan perlu diingat adalah cooking is a skill, not a gift. You can always learn it! Teman saya si A yang baru berkenalan dengan dapur saja bisa, kenapa kalian nggak?

Related Articles

Mencari Bakat Terpendam Nggak Pandang Umur

Biasanya sih kata-kata itu dilontarkan oleh orang tua saat kita masih kecil. Makanya, banyak orang tua yang mengikutsertakan anaknya ke kelas-kelas edukasi informal seperti les musik dan kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan minat dan bakat anaknya masing-masing. Kenyataannya, menemukan bakat terpendam kita itu nggak kenal umur, lho! Bisa aja setelah dewasa, lo baru tau kalau punya bakat terpendam.

4 Kegiatan Fangirl(boy)ing yang Hemat dan Bermanfaat

Fangirling atau fanboying adalah salah satu kegiatan yang paling menguras uang, waktu, dan tenaga. Rasa-rasanya menjadi fangirl atau fanboy nggak akan pernah kaya karena uang tabungan selalu terpakai untuk membeli album keluaran baru atau photocard Oppa. Masa sih?

Pressure Itu Baik

Pressure yang kita terima dari masa kecil ternyata melatih mental, cara berpikir, emosi, juga fisik kita untuk menjadi pribadi yang lebih kuat sampai hari ini, bahkan melatih kemampuan problem solving kita.

Browse Other Categories