Pressure Itu Baik

14 February 2020

Percaya nggak, kalau superhero itu emang beneran ada? Mungkin ada banyak definisi superhero di dunia ini, tapi buat gue superhero adalah mereka yang mampu bertahan dalam tekanan dan bisa menyelesaikan berbagai macam permasalahan. Lo pernah mengalaminya? Lha sama, gue juga pernah! Makanya, kita semua pantas disebut superhero (beuh.. tiba-tiba berasa bisa terbang deh).

Sadar atau nggak, sebenernya kita udah melalui berbagai macam pressure dan mampu bertahan hingga akhirnya bisa berada pada titik sekarang. Biar gampang mengingatnya, coba deh tarik dulu ke belakang dari pengalaman yang pernah kita lalui (psst.. jangan kenceng-kenceng nariknya, ntar putus malah galau lagi).

Ambil contoh pas jaman SD. Kalau boleh gue tebak, kita semua pasti familiar dengan kalimat-kalimat semacam “Hayo, udah belajar belom?” atau “Maen mulu, PR udah dikerjain belom?”. Pokoknya kalau udah ditanyain kayak gini, mau nggak mau kita bakal langsung duduk di meja belajar dan mulai belajar. Padahal itu orang tua kita lagi nanya lho, bukan nyuruh (ya nanya sama nyindir suka beda tipis emang)

Tapi, secara otomatis kita bakal langsung kabur ke meja belajar kalau emang belum belajar. Pressure cuy! (Gue anggep semua yang baca ini termasuk anak berbakti yang selalu dengerin perkataan orang tuanya, iya kan? Iya dong? Iya lah).

Beda lagi pas jaman kuliah. Masa muda, masa yang berapi-api (you sing you lose). Mirip dengan jaman SD, selain masalah seperti tugas kuliah, kegiatan UKM, dan percintaan, kita juga masih mendapat “pressure” dari orang tua berbentuk laporan soal nilai IPK tiap semesternya (again, sebagai anak yang berbakti, jelas nggak mau dong ngasih nilai IPK yang pas-pasan, apalagi sampai kurang. Biaya kuliah nggak murah, cuy).

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun, akhirnya kita dihadapkan pada dunia kerja (backsound: Welcome to the jungle - Guns N’ Roses). Hampir setiap lowongan pekerjaan selalu nyantumin “bisa bekerja di bawah tekanan”. Nah, karena dari kecil kita sudah terbiasa dengan pressure dalam berbagai bentuk, pastinya kita merasa jadi orang yang paling akrab sama yang namanya tekanan (jangan senang dulu anak muda! *devil laugh*).

Bener aja. Buat kalian yang terjun ke dunia kreatif (nggak tau deh, sama pekerjaan lainnya, PNS misalnya?), akhirnya pasti bakal menyadari bahwa tekanan yang kita terima selama ini ternyata nggak ada apa-apanya dibanding dengan memeras otak buat memunculkan ide, membuat konsep, sampai akhirnya diajukan sesuai tanggal deadline. Mungkin ini kali ya, yang namanya sakit tapi nggak berdarah?

"How are our ways of creating something? Be the superhero and beat your own pressure!"

 

Tapi sekalipun dalam kondisi “babak belur”, nyatanya kita masih bisa bertahan dan berhasil melewati tekanan demi tekanan. Ini hebat lho, tapi kita sering nggak sadar aja. Bahkan karena terlalu sering menerima tekanan, akhirnya kita malah bisa menemukan pola dan solusinya sendiri. 

Gimana, nggak kepikiran kan kalau pressure yang kita terima dari masa kecil ternyata melatih mental, cara berpikir, emosi, juga fisik kita untuk menjadi pribadi yang lebih kuat sampai hari ini? (Wow.. mind blowing). Bahkan melatih kemampuan problem solving kita. Asli, ini soft skill yang penting lho! Apalagi di dunia kerja. 

Selama bekerja di Contendr, yang namanya “pressure” udah pasti bukan “barang langka” di keseharian gue. Biasalah, namanya juga dunia ahensi. But, it’s okay, tekanan yang gue dapat malah bikin gue melangkah lebih jauh dan banyak belajar. Otomatis, skill gue jadi ikutan nambah, begitu pula dengan pengalaman dan pencapaian gue.

Jadi, sekarang lo harus ingat. Terkadang hasil pekerjaan yang memuaskan dan melegakan buat diri sendiri itu diawali dengan tekanan yang luar biasa. Kuncinya adalah jangan panik, prediksi polanya, dan temukan solusinya. Oh iya, jangan lupa juga buat tetap percaya kalau badai tekanan pekerjaan akan berlalu. This too shall pass, sob! Terus bayangkan juga hal-hal menyenangkan yang bisa kita lakukan setelahnya (kalau kata Bang Hotman “atur tempo, kontrol keadaan”).

Related Articles

Mencari Bakat Terpendam Nggak Pandang Umur

Biasanya sih kata-kata itu dilontarkan oleh orang tua saat kita masih kecil. Makanya, banyak orang tua yang mengikutsertakan anaknya ke kelas-kelas edukasi informal seperti les musik dan kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan minat dan bakat anaknya masing-masing. Kenyataannya, menemukan bakat terpendam kita itu nggak kenal umur, lho! Bisa aja setelah dewasa, lo baru tau kalau punya bakat terpendam.

4 Kegiatan Fangirl(boy)ing yang Hemat dan Bermanfaat

Fangirling atau fanboying adalah salah satu kegiatan yang paling menguras uang, waktu, dan tenaga. Rasa-rasanya menjadi fangirl atau fanboy nggak akan pernah kaya karena uang tabungan selalu terpakai untuk membeli album keluaran baru atau photocard Oppa. Masa sih?

Nih, 4 Alasan Masuk Akal Biar Rajin Masak!

Budayakan memasak sendiri makanan kita. Sibuk dan nggak ada waktu? Bisa masak saat weekend dan membuat stok makanan seminggu kedepan. Kalau alasannya nggak bisa memasak karena nggak berbakat, itu sudah basi. Hari gini belajar memasak sudah segampang memencet tombol follow dan scrolling timeline instagram.

Browse Other Categories