Promosi Brand di Clubhouse, Pentingkah?

By Rinaldy Sofwan Fakhrana,

22 April 2021

brand promotion

Dengan 10 juta app downloads, 6 juta pengguna, dan rentetan nama selebritas atau public figure di antaranya, Clubhouse tentu punya appeal tersendiri untuk marketers seperti kami dan Anda. Tetapi apakah platform ini dapat menjadi peluang baru bagi brand untuk melakukan pemasaran? Apakah worth it untuk kita membuat branding strategy dengan memanfaatkan media sosial baru ini? Yuk, kita bahas lebih detail! 

Buat Anda yang belum familier, Clubhouse adalah media sosial bersifat invite-only yang memungkinkan pengguna untuk membuat atau gabung dalam chatroom berbasis audio yang disebut dengan “Rooms.” Artinya, Anda harus mendapatkan undangan dari pengguna yang sudah terdaftar untuk signup, dan hanya bisa menggunakan suara untuk berkomunikasi dengan pengguna lainnya.

Untuk lebih lengkapnya, Anda bisa baca artikel kami mengenai 5 fakta menarik tentang Clubhouse ya! Karena kali ini, kami akan lebih berfokus pada potensi aplikasi ini sebagai platform marketing ke depannya. 

Apakah sudah ada brand yang menggunakan Clubhouse untuk marketing? Well, selain karena jumlah pengguna dan download, banyaknya influencers di platform ini membuat brands perlahan mulai melirik. Tetapi, hingga artikel ini ditulis, jumlahnya masih terbatas walau terus bertambah secara konstan. 

Hal ini mungkin terkait sama sifatnya yang eksklusif banget sehingga membatasi potensi reach. Selain invite-only, aplikasinya juga baru tersedia untuk iOS dan belum ada di Android. Clubhouse sudah menyatakan kalau mereka sedang mengembangkan aplikasi untuk si robot hijau, sih. Namun, marketers mungkin masih wait-and-see karena kemungkinan ada “badai” yang bisa meruntuhkan popularitas app ini.

Badai seperti apa sih? Lalu worth-it atau enggak nih jadinya buat invest dan mulai bikin branding strategy untuk Clubhouse saat ini? Kita langsung bahas saja pro dan kontranya!

Pro

1. Kredibilitas dan engagement

Menurut HubSpot, di tahun 2020 kemarin konsumen mulai condong ke arah perusahaan yang otentik dan tepercaya ketimbang nama-nama brand besar yang sudah lama punya pengikut setia. Nah, Clubhouse adalah platform yang bisa Anda gunakan untuk menjawab tantangan ini.

Alasannya, segala message delivery yang dilakukan di media sosial ini bersifat live dan interaktif. Sebagai pembicara, brand mungkin dihadapkan pada respons langsung dari audiens yang bergabung di satu room yang sama. Enggak ada censorship, enggak ada kontrol selain moderasi. Artinya, perusahaan enggak bakal punya waktu untuk menyiapkan skrip atau canned response dan “dipaksa” menjawab seadanya, sejujurnya.

Audiens bakal melihat ini sebagai bentuk keterbukaan dan perusahaan Anda dapat lebih mudah diterima sebagai brand yang terpercaya. This is especially true jika Anda membahas dan memberi insights tentang industri yang digeluti. Brand akan dipandang sebagai ahli di bidangnya dan kredibilitas serta audience engagement pun terbangun seiring Anda semakin banyak menggelar sesi di platform ini. 

Prospek yang menarik untuk branding strategy Anda selanjutnya, kan?

2. Influencer Marketing

Kami sudah pernah bilang sebelumnya dan sekarang akan bilang lagi: ada gula ada semut, ada influencers ada marketers. Salah satu faktor yang mendukung hype aplikasi ini sendiri adalah one of the world’s most significant influencers, CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk. Dan saat ini, segambreng nama-nama besar lainnya sudah tercatat menggunakan Clubhouse.

Sejak awal, Clubhouse memang dipasarkan kepada influencers, dan tokoh-tokoh top dunia. Sekarang, setelah trending karena digunakan Musk, nama-nama seperti Drake, Oprah Winfrey, hingga Ashton Kutcher pun bermunculan di platform tersebut. Clubhouse pun belakangan membuka “program akselerasi” untuk memfasilitasi influencers beraktivitas di platformnya.

Melihat dari gerak-geriknya, kelihatannya platform ini ingin menjadi media utama untuk para influencers, dan itu bisa jadi angin segar buat kita marketers

Salah satu yang sudah memanfaatkannya adalah Martell Cognac. Brand tersebut menggaet content creator bidang marketing Karen Civil untuk mendukung black entrepreneurs perempuan selama Black History Month lalu. 

Anda pun bisa melakukan hal yang sama. Walau belum mendukung monetisasi dan iklan, Anda bisa menjalin kerja sama langsung dengan influencers yang relevan dengan brand Anda dan mulai membangun awareness di platform baru ini.

3. Kebutuhan audiens

Anda dan kita semua mungkin merasakan hal yang sama. Seiring dengan menyebarnya wabah COVID-19, kita semakin akrab dengan webinar, acara-acara virtual, dan banyak hal lainnya yang berperan sebagai pengganti aktivitas kita sehari-hari. Tetapi hal yang paling sulit tergantikan adalah interaksi sosial. 

Penggunaan dan jumlah pengguna media sosial global pun meningkat sepanjang pandemi untuk mengisi kekosongan tersebut. Tetapi, Anda pernah dengar enggak yang namanya Zoom fatigue? Itu adalah sebuah istilah baru yang menjelaskan kondisi kelelahan karena terlalu banyak melakukan video conference melalui aplikasi Zoom. Kami udah bahas tentang hal ini sebelumnya di sini. Nah kondisi ini juga sebenarnya bisa terjadi karena penggunaan teknologi lain pada umumnya.

Media sosial yang kita biasa gunakan saat ini semuanya menuntut kita untuk terus melihat layar, baik itu mengonsumsi konten visual di Instagram, menulis komentar dan status di Facebook, maupun bercuit 280 karakter di Twitter. Uniknya, Clubhouse membebaskan penggunanya dari hal ini karena interaksi yang dilakukan berbasis audio.

Dengan itu, Clubhouse menjawab kebutuhan audiens akan interaksi sosial di tengah pandemi tanpa mengikat penggunanya ke layar. Usai pandemi pun, nilai plus ini bisa terus jadi daya tarik tersendiri karena bagaimanapun lifestyle kita sehari-hari udah segala-galanya harus dilakukan menggunakan layar, baik sekadar mencari hiburan maupun bekerja.

Nah, selain karena ada kemungkinan pergeseran preferensi audiens, Anda juga pasti mau kan brand Anda dipandang sebagai brand yang memenuhi kebutuhan konsumennya?

Kontra

1. Eksklusivitas

Lalu apa saja kekurangannya? Ironisnya, salah satu faktor yang membuat aplikasi ini trending justru juga jadi hal yang membuatnya terbatas dalam potensi marketing. Karena bersifat eksklusif, walaupun ada banyak kelebihan yang dihadirkan dari interaksi otentik dan “intim” seperti yang kita bahas di atas, dari segi jangkauan platform ini masih terbatas banget.

Kalau Anda penganut berat filosofi quality over quantity dan niche Anda memang berada di platform ini, mungkin enggak ada masalah. But at the end of the day, situasi saat ini bikin Clubhouse enggak bisa jadi jawaban untuk semua brand. Ada angka-angka yang harus diperhitungkan matang terlebih dahulu sebelum Anda memutuskan untuk terjun ke platform ini. Seberapa banyak kita harus berinvestasi? Seberapa besar potensi return-nya?

Selain itu, kesan eksklusif juga enggak selalu cocok dengan semua brand. Ibaratnya begini: Kalau Anda perusahaan seperti Apple yang memang memposisikan produknya sebagai komoditas lifestyle, memasang harga tinggi dan membuat kesan eksklusif enggak jadi masalah. Tetapi kalau Anda perusahaan seperti OnePlus yang sudah dikenal sebagai “flagship killer”, ketika Anda mengeluarkan produk yang mahal dan eksklusif akhirnya konsumen jadi bertanya-tanya. 

Well, seperti yang kami bilang sebelumnya, saat ini Clubhouse sedang mengembangkan aplikasi untuk Android dan berusaha membuka akses untuk lebih banyak pengguna. Tetapi apakah itu bisa dicapai sebelum “badai” kompetisi datang?

2. “Badai” kompetisi

Yang kami maksud dengan “badai” kompetisi adalah datangnya layanan serupa dari platform lebih besar yang bersifat lebih terbuka, seperti Facebook dan Twitter. Masih ingat waktu ide Snapchat dicaplok Instagram? Nah kabarnya, Facebook, perusahaan yang sekarang jadi induk dari IG, akan membuat layanan seperti Clubhouse untuk platformnya. 

Di saat yang sama, Twitter juga enggak mau kalah dan bikin yang namanya Spaces. Calon pesaing Clubhouse ini saat ini sedang diuji beta. Nantinya, siapapun yang menggunakan aplikasi Twitter di iOS dan Android bisa menggunakan fitur ini, membuatnya jadi jauh lebih terbuka dibanding aplikasi “original”-nya yang eksklusif.

Bahkan, kabarnya LinkedIn pun lagi bikin fitur serupa. Enggak ada habisnya deh. Lalu bagaimana nasibnya Clubhouse kalau fitur yang ditawarkan enggak lagi unik dan ada opsi lain yang bisa diakses oleh semua orang? Ketidakpastian ini yang bikin Clubhouse masih belum bisa jadi tempat menjanjikan buat marketers

Walau potensinya besar banget, Anda enggak mau kan sudah susah-susah bikin branding strategy yang tailored for Clubhouse, eh ternyata platformnya enggak bertahan lama?

3. Risiko Diserang

Di atas, kita sudah bahas tentang bagaimana Clubhouse bisa menawarkan pengalaman interaksi yang otentik antara brand dan audiens karena sifatnya yang live dan uncensored. Tetapi sebagian dari Anda mungkin langsung membayangkan kalau engagement semacam ini bisa berisiko buat brand karena boleh jadi audiens memberikan pertanyaan yang bombastis dan mengancam reputasi. Ya, kalau Anda berpikir demikian, memang benar banget.

Keterbukaan memang bisa berdampak positif banget buat brand, tetapi ada pertaruhan reputasi yang harus diambil di sini. Contohnya adalah kejadian yang berkontribusi pada hype aplikasi ini. Elon Musk masuk ke dalam room bersama CEO Robinhood Markets Vlad Tenev dan mengajukan pertanyaan. Musk meminta Tenev untuk jelasin topik kontroversial: mengapa perusahaan jual-beli sahamnya mencegah pengguna untuk menjual dan membeli saham GameStop.

Walau percakapan di room enggak direkam oleh Clubhouse dan langsung hilang ketika sesi berakhir, pihak aplikasi bagaimanapun enggak bisa mencegah pengguna buat merekam pakai cara lain seperti screen record atau pakai kamera untuk merekam ponselnya.

Percakapan Elon Musk dan Vlad Tenev

Setiap bisnis pasti punya topik sensitifnya sendiri, dan kalau Anda mau terjun ke Clubhouse, lebih baik siap-siap dulu dengan public speaking skills dan trik-trik merespons pertanyaan audiens semacam ini. Tenev sih bisa tenang-tenang saja menjawab pertanyaan dari Musk. Bagaimana kalau Anda yang ada di posisinya?

Kesimpulannya?

Clubhouse punya banyak potensi, tetapi untuk saat ini masih terlalu eksklusif dan bisa jadi harus menghadapi banyak kompetisi dalam waktu dekat ini. Kami enggak akan bilang Anda harus coba menggunakan Clubhouse sekarang untuk marketing atau sebaliknya karena setiap bisnis tentunya punya kebutuhan yang unik. Tetapi semoga dari  penjelasan beberapa kelebihan dan kekurangan di atas, Anda bisa dapat gambaran lebih jelas buat mempertimbangkannya. 

Either way, yang bisa kami rekomendasikan adalah jangan abaikan platform ini sepenuhnya karena bisa jadi ke depannya Clubhouse terus berkembang hingga jadi media sosial utama para influencers. Kalaupun Anda menyimpulkan saat ini Clubhouse bukan untuk Anda, pantau terus perkembangannya dan semua kompetitor yang ada.

Kami pun di Contendr terus memantau dan mengkalkulasikan potensi marketing dan branding di Clubhouse untuk setiap skenario bisnis yang ada. Jadi, kalau Anda mau diskusi seputar platform ini dan platform media sosial lainnya, jangan ragu buat kontak kami lho. Siapa tahu kami bisa bantu mulai dari insights, strategi, sampai eksekusinya. Yuk, ngobrol sekarang!

Related Articles

Content Marketing

4 Ide Pemasaran Brand Selama Bulan Ramadan 2021

Sebagai negara yang didominasi oleh penduduk muslim maka tak heran kalau Ramadan menjadi salah satu tema besar bagi para marketer dalam melaksanakan pemasaran brand di Indonesia. Nah, pada Ramadan tahun ini, ide pemasaran seperti apa yang bisa Anda coba? Berikut empat di antaranya.

Content Marketing

EDM atau Newsletter Makin Menjual dengan 4 Ide Berikut

Anda menjadikan newsletter atau EDM sebagai salah satu bentuk content marketing bagi brand Anda? Strategi apa yang bisa Anda gunakan untuk membuatnya makin menjual? Yuk simak empat ide berikut!

Content Marketing

B2C vs B2B Marketing, 3 Perbedaan yang Harus Marketer Pahami

B2C dan B2B marketing adalah dua istilah yang sudah sangat fimiliar di dunia marketing, terlebih bila Anda adalah seorang marketer. Nah dalam artikel kali ini akan dibahas mengenai perbedaan keduanya dari sisi strategi pemasaran, platform pemasaran, dan approach ke audiens.

Browse Other Categories

We are your teammates.

We're never just another agency, we're your teammates, providing you with everything needed on the pitch of digital marketing.

Servicesarrow_forward

Hi there!

Ready to cook your digital content with us?

Contact Us Now
Whatsappp Sharing