Hindari Mengunggah Content Marketing di Berbagai Media Sosial Secara Serentak, Alasannya?

By Bimo Gadabima,

08 February 2021

 

Mulai Facebook, Youtube, Instagram, Twitter, LinkedIn sampai TikTok. Yes, di era digital seperti saat ini, kita mengenal begitu banyak platform media sosial, dan setiap platform sudah pasti menawarkan peluang bisnisnya masing-masing. 

Nah, sebagai marketer maupun brand owner, Anda tentu ingin dong memanfaatkan peluang-peluang tersebut untuk berjualan, meningkatkan brand awareness, membangun brand image, dan sebagainya. Maka tak heran, jika Anda berencana atau mungkin sudah coba menerapkan salah satu strategi social media marketing, yakni mengunggah content marketing di beberapa platform media sosial sekaligus. Hal ini baik, tetapi sebaiknya Anda tidak mengunggah content marketing di waktu yang bersamaan ke beberapa platform media sosial. Apalagi jika Anda juga terlalu sering mengunggah jenis dan isi konten yang plek-ketiplek sama (mirroring). Melansir Hootsuite, mari kita pelajari alasannya, ya!

1. Beda Platform, Beda Audiens

Demografis user dari setiap media sosial tentu saja berbeda. Coba kita ambil dua contoh platform media sosial untuk dibandingkan, ya. Sebut saja Instagram dan LinkedIn.  Oke, data dari Statista menunjukkan bahwa lebih dari setengah pengguna Instagram secara global adalah mereka yang berusia 34 tahun ke bawah. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari Napoleon Cat (2020) yang diolah oleh Good News From Indonesia, pengguna akun Instagram di tanah air didominasi oleh wanita yang berusia 18-24 tahun. 

Sedangkan LinkedIn, Statista menyebutkan bahwa pengguna platform ini secara global didominasi oleh laki-laki dan mereka yang berusia 25-34 tahun. Selain data demografi mengenai usia dan jenis kelamin, hal penting lain yang perlu Anda ingat adalah LinkedIn digunakan oleh lebih dari 690 juta profesional, dan di negara asalnya a.k.a Amerika, LinkedIn digunakan oleh para 50% pengguna internet dengan gelar sarjana atau lebih tinggi.

Berdasarkan data-data di atas, tentu Anda jadi menyadari bahwa setiap platform media sosial memiliki audiens yang berbeda. Maka dari itu, mereka perlu mendapatkan treatment yang berbeda pula. Jika brand Anda ingin mengunggah content marketing di Instagram maka buatlah konten-konten kreatif yang youthful dan kasual. Pilihlah juga tren dan topik content marketing yang relate dengan generasi milenial.  Namun, treatment tersebut tentu tidak akan cocok jika Anda terapkan di LinkedIn. Pada platform tersebut, konten-konten kreatif yang Anda buat perlu menunjukkan sisi profesionalisme dari brand Anda. Gunakanlah juga bahasa yang lebih formal, layaknya berbicara dengan partner bisnis Anda.

2. Peak Hour Setiap Media Sosial Berbeda

Nah, selain punya demografi audiens yang berbeda, setiap platform media sosial juga punya peak hour atau jam sibuk yang berbeda. Melansir Social Media Today, Blog2Social by Adenion berbagi waktu ideal untuk mengunggah konten di berbagai media sosial dalam bentuk infografik, berikut empat di antaranya:

Untuk Facebook, waktu ideal untuk mengunggah konten adalah pada hari Selasa, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu pukul 13.00-16.00 (cocok untuk B2B content) dan pukul 18.00-22.00 (cocok untuk B2C content) dengan frekuensi dua kali posting per hari.

Kemudian untuk Twitter, waktu unggah konten terbaik adalah pada hari kerja pukul 08.00-10.00, 11.00-13.00, dan 17.00-18.00 dengan frekuensi tiga kali posting per hari.

Selanjutnya, ada Instagram. Ternyata waktu unggah konten terbaik adalah pada hari Senin, Rabu (interaksi paling tinggi), dan Kamis pukul 11.00-13.00 dan 19.00-21.00 (interaksi paling tinggi) dengan frekuensi satu atau dua posting per hari.

Sedangkan untuk LinkedIn, waktu unggah konten terbaik adalah pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis pukul 08.00-10.00 dan 17.00-18.00 dengan frekuensi cukup satu kali posting per hari.

Setelah mengetahui data di atas maka sebaiknya Anda tidak lagi menyamaratakan jadwal posting  konten di berbagai akun media sosial brand Anda. Dalam menentukan jadwal posting konten yang terbaik bagi brand Anda, pastikan Anda tidak hanya mengandalkan data statistik media sosial, tetapi juga mempelajari best practice selama pengelolaan media sosial tersebut. Pahami data analitik, consumer behaviour dari brand Anda bahkan lakukan A/B testing demi mendapatkan data/insight yang akurat terkait peak hour audiens Anda di media sosial tertentu. Dengan jadwal posting yang tepat, Anda akan memperbesar peluang unggahan Anda meraih angka reach yang tinggi alias dilihat oleh banyak orang sehingga brand awareness otomatis meningkat.

3. Berisiko Content Fatigue

Selain zoom fatigue, ada pula yang namanya content fatigue. Maksudnya bagaimana? Oke, sebelumnya perlu Anda ketahui bahwa rata-rata orang Indonesia memiliki 10-11 akun media sosial (aplikasi messenger termasuk di dalamnya). Jadi, bukan brand Anda saja yang mengelola banyak akun media sosial, audiens Anda juga melakukan hal sama, lho. Dengan begitu, akan selalu ada kemungkinan audiens Anda mengikuti lebih dari satu akun media sosial milik brand Anda. Artinya, Anda bisa menemukan beberapa follower yang sama pada akun Instagram, Twitter, dan Facebook brand Anda. 

Selain itu, karena punya banyak akun media sosial yang mungkin berbagai aplikasinya sudah diunduh ke dalam satu gadget maka kemungkinan besar mereka bakal membuka lebih dari satu aplikasi media sosial dalam satu hari. Anda sendiri, berapa platform media sosial yang Anda buka dalam sehari? 

Nah, sekarang bayangkan jika Anda mengunggah konten ke semua akun media sosial brand Anda dengan jenis dan pesan konten yang sama pada waktu yang bersamaan pula. Jika Anda di posisi audiens, apakah Anda bakal happy ketika melihat konten yang sama persis “bertebaran” di mana-mana? Bisa jadi, Anda malah jenuh bahkan kesal. Untuk itu, hal seperti ini perlu kita hindari. Jangan sampai audiens kita melihat konten yang berulang dalam jumlah banyak hingga mengalami content fatigue. Kalau sudah begini, boro-boro menanggapi isi konten, bisa jadi mereka malah memilih untuk unfollow akun brand Anda. Wah, hal seperti ini nih yang tentunya paling enggak Anda inginkan.

Maka dari itu, untuk mencegah content fatigue dalam menjalani social media marketing, penting bagi brand untuk memproduksi content marketing yang bervariasi dan mengunggahnya di waktu yang berbeda, namun sambil tetap merujuk pada hasil pembelajaran yang sudah Anda dapatkan tentang demografi user, peak hour, dan sebagainya dari masing-masing platform media sosial. 

4. Brand Terkesan Kurang Profesional

Jika Anda menyamaratakan semua jenis konten bahkan sampai ke format kontennya maka Anda berpotensi melakukan kesalahan. Mengapa? Karena persyaratan konten layak upload dari masing-masing media sosial berbeda. Youtube mampu menerima video dengan durasi hingga 12 jam, sedangkan Instagram hanya mampu menampilkan video berdurasi maksimal satu menit pada Instagram feeds. Facebook menawarkan 63.203 karakter untuk penulisan caption, tetapi tidak untuk Twitter yang hanya memperbolehkan 280 karakter. 

So, one content doesn't fit all. Ingat, konten yang tidak memenuhi persyaratan dari media sosial tertentu, penampakannya pasti bakal kurang baik. Bisa jadi visualnya “pecah” atau kepotong, caption-nya kepanjangan, dan sebagainya. Hal-hal seperti inilah yang akhirnya dapat memunculkan citra/kesan kurang profesional pada brand Anda dalam mengelola media sosial. Bagaimana mau membangun kepercayaan audiens jika mereka saja tidak melihat kompetensi sebuah brand dalam melakukan pemasaran.

Maka, selain memvariasikan bentuk konten dan membedakan jadwal posting-nya, pastikan pula Anda sudah menyesuaikan format konten berdasarkan persyaratan media sosial tujuannya. 

Demikianlah bermacam alasan untuk Anda pertimbangkan jika hendak mengunggah content marketing secara serentak ke semua platform media sosial Anda. Bermacam alasan tersebut juga menjadi pertimbangan kami dalam menyusun strategi social mediamarketing untuk Asia Pulp and Paper - APP Sinar Mas waktu itu. Di bawah payung komunikasi “Growing Our Tomorrow”, kami mengelola website blog dan berbagai akun media sosial APP untuk mempromosikan APP sebagai sustainability company berskala global yang menghasilkan berbagai produk pulp dan kertas berkualitas.

Untuk media sosial, kami mengelola akun LinkedIn, Twitter, Facebook, Instagram, dan YouTube milik APP. Nah, kami akan coba mengambil dua contoh pengelolaan di antaranya, yakni akun Instagram dan Twitter APP, khususnya di bulan Agustus 2020. Dalam upaya mendapatkan angka engagement yang baik, selain memahami statistik dari Instagram dan Twitter, kami juga menganalisis peak hour para audiens APP di kedua platform tersebut. Berdasarkan hasil analisis, kami pun menjadwalkan content post APP untuk Instagram setiap hari Senin antara pukul 18.00 hingga 19.00. Sedangkan untuk Twitter, kami jadwalkan setiap hari Rabu pada pukul 11.00. 

Selanjutnya, untuk jenis dan topik konten, kami kerap kali menyamakannya. Namun, dalam hal penulisan caption tentu saja kami bedakan. Contohnya, sebagai berikut:

Content post APP di Instagram

Bisa Anda lihat, kami mengedepankan storytelling yang humanis untuk menyampaikan isi konten kepada audiens APP di Instagram yang berasal dari bermacam kalangan atau audience in general. Ketimbang langsung mempromosikan  APP yang memiliki peralatan pemadam kebakaran yang lengkap, kami justru menceritakan terlebih dahulu alasan di balik kepemilikan peralatan yang lengkap itu, yakni demi melindungi pekerja pemadam kebakaran dan hutan. Dengan pendekatan seperti ini, kami ingin audiens dapat mengenal APP lebih jauh dan memahami value dari brand tersebut, sehingga this giant company bisa lebih dekat dengan para audiens sekaligus product customer-nya dan mampu membangun kepercayaan mereka.  

Nah, berbeda dengan Instagram, di Twitter kami menggunakan struktur bahasa yang straightforward dan profesional dalam menyampaikan isi konten. Hal ini kami lakukan demi menyesuaikan persona audiens APP di Twitter, yakni pebisnis, media, NGO, pemerhati lingkungan, dan pemerintah. Berikut hasilnya:

Content post APP di Twitter

Sekarang, apakah Anda masih berencana untuk mengunggah content marketing secara serentak di seluruh akun media sosial brand Anda? Sebelum membuat keputusan, pastikan saja Anda telah mempelajari perkembangan statistik dari setiap media sosial yang Anda gunakan, juga hasil analitik dari para audiens brand Anda. Selain membuat creative content yang jenis dan topiknya bervariasi, buatlah juga content plan yang rapi untuk setiap media sosial agar jadwal posting menjadi teratur dan terlaksana dengan baik.

Membuat content plan, creative content yang variatif, dan mengelola beberapa akun media sosial brand memang bukan pekerjaan yang mudah, tetapi tenang, itulah alasan kami di sini. Contendr siap banget nih untuk membantu Anda, langsung sapa kami, yuk! 

Related Articles

Content Marketing

Social Media Marketing: Siap Manfaatkan TikTok sebagai Platform Promosi Brand di 2021?

Siap menjalankan TikTok for business di tahun 2021? Langsung saja simak fakta menarik terkait TikTok marketing agar Anda makin siap untuk memanfaatkan TikTok sebagai sarana kegiatan promosi brand Anda di dunia digital.

Content Marketing

Celebrity Endorsement dan Influencer Marketing, Serupa Namun Tak Sama

Serupa tetapi tak sama. Celebrity endorsement dan influencer marketing adalah dua strategi marketing yang berbeda. Apa sih perbedaannya dan mana yang lebih efektif untuk memasarkan brand Anda? Langsung saja kita bahas sama-sama yuk!

Content Marketing

Pemasaran di Media Sosial dengan IGTV Ads, Apa yang Harus Dicatat?

Banyak cara memasarkan brand di media sosial. Salah satunya menggunakan IGTV ads. Apa itu IGTV ads dan apa saja keuntungannya?

Browse Other Categories

We are your teammates.

We're never just another agency, we're your teammates, providing you with everything needed on the pitch of digital marketing.

Servicesarrow_forward

Hi there!

Ready to cook your digital content with us?

Contact Us Now
Whatsappp Sharing