Pelajaran Berharga dari 3 Film Pendek Lokal di YouTube, Penasaran?

By Bimo Gadabima,

25 September 2020

Anda familier dengan tokoh Bu Tedjo? Tokoh dari film pendek "Tilik" (2018) ini sukses jadi perbincangan publik akhir-akhir ini dan filmnya pun berhasil ditonton oleh 20 juta orang dalam dua minggu. Kalau Anda kini tertarik dengan film-film pendek sejak menonton "Tilik" di YouTube, berarti Anda sama dengan saya. Apalagi akibat situasi pandemi, larangan untuk pergi ke bioskop masih berlaku di Indonesia setidaknya sampai hari ini (24/9). Jadi ya wajar, kalau streaming film, baik di platform berbayar maupun YouTube menjadi suatu alternatif hiburan.

Oke deh, langsung saja. Selain “Tilik”, berikut tiga rekomendasi film pendek lainnya yang bisa Anda nikmati dengan value yang menarik versi saya. Simak ya!  

"Heee, nggih mboten. Niki tiga, damel Bagas kalih bojo kula. Mas Sigit kan mboten saged teng mesjid, mergane angsal lemburan teng gaweane. Ngaten, yah." - Ibu Baedah, Unbaedah

 

Film karya Iqbal Ariefurrahman yang diproduksi oleh Bakara Film ini menampilkan pemeran Bu Tedjo di film pendek “Tilik”, yakni Siti Fauziah sebagai Ibu Baedah. Berhasil menjadi pemenang favorit dalam ajang ACFFest 2019, film Unbaedah bercerita tentang Ibu Baedah yang punya kebiasaan mengambil jatah besek orang tiap ada gelaran acara di kampungnya. Sampai pada suatu acara tahlilan, Ibu Mardiyah tidak mendapatkan jatah besek akibat ulah Ibu Baedah dan hal ini tentu saja membuat warga geram.

Buat Anda yang belum tahu, ACFFest merupakan festival film antikorupsi tahunan yang diselenggarakan oleh KPK RI. Nah buat saya, pengemasan film “Unbaedah” dalam mensosialisasikan gerakan antikorupsi begitu menarik. Personifikasi Siti Fauziah di film ini begitu menjiwai sebagai tokoh antagonis sekaligus pemeran utama. Gara-gara nonton ini, saya jadi sadar kalau mengambil hak orang sekalipun hanya berupa besek nasi di acara-acara komplek atau perkampungan merupakan bagian dari tindakan korupsi. Jadi mikir, jangan-jangan saya juga pernah melakukan tindakan korupsi dalam bentuk lain secara enggak sadar. Duh, jangan sampai deh.  

Dalam film tersebut, Ibu Baedah akhirnya dibuat jera oleh para ibu-ibu kampung yang mengerjai dirinya. Esensi dari cerita ini sebenarnya simpel, yakni tidak mengambil hak orang lain untuk kepentingan diri sendiri apapun caranya. Saya senang film Unbaedah ini mampu mengemas “gerakan antikorupsi” dengan cara menghibur tanpa menggurui. Good job! 

“Walaupun  motorku jelek, tapi itu sudah lunas. Memangnya kalian motor angsuran! Itu pemberian langsung dari mamaku di Siantar.” - Togar, Balik Jakarta

 

Film pendek ini merupakan hasil kerja sama antara pemerintah Jerman dan Indonesia yang diproduksi oleh Studio Antelope. Bercerita tentang Togar si tukang ojek yang coba menolong seorang bule asal Jerman bernama Günther.  Dengan modal sebuah foto, Togar dan Günther berkeliling naik motor demi menemukan rumah masa kecil Günther di Jakarta yang sudah 20 tahun ditinggalkannya. 

Di film ini sebenarnya tidak ada adegan spesial yang mengaduk emosi. Cerita hanya didominasi dengan percakapan ringan antara Togar dan Günther di atas motor, tetapi menariknya, justru dari percakapan merekalah, Anda  dapat menemukan dua cara pandang yang berbeda dari dua negara. Dan yang bikin menarik, perjalanan naik motor ini secara enggak langsung  memperlihatkan kita, bagaimana wajah dan situasi Jakarta masa kini: ada perkampungan, perumahan elit, juga kemacetan.

By the way, mendengar nama Günther pada tokoh pemeran bulenya, saya jadi teringat dengan pembuat peta Jakarta tersohor asal Jerman Gunther W. Holtrof di tahun 70-an akhir hingga awal tahun 2000-an. Ia adalah pembuat buku peta Jakarta paling lengkap sebelum era Google Maps dan Waze dikenal. Ia suka blusukan ke relung-relung wilayah Jakarta sambil marking lokasi. 

Kembali lagi ke film, dari semua percakapan yang dilakukan oleh Togar dan Günther, saya paling suka momen saat Günther mengomentari sticker berbentuk cicak yang ditempel Togar pada motornya. Menurut Togar, mamanya pernah berpesan padanya untuk menjadi seperti cicak. Lho, kok? Iya, soalnya cicak pintar beradaptasi. Wah, pesan mamanya Togar ngena banget nih buat saya dan mungkin juga Anda yang tinggal di kota-kota besar. Hiruk pikuk kota besar memang sering kali memaksa kita untuk pandai beradaptasi. Apalagi hidup di tengah situasi pandemi kayak sekarang, banyak bangetlah hal-hal baru yang harus kita biasakan. Kalau kita enggak pandai beradaptasi, takutnya kita enggak bisa survive ke depannya. Hehehe… 

"Menungso iso nutup mripat, iso nutup kuping, ning menungso raiso ngapusi ati, Her." - Mien, Sowan

 

ASA Film dan Khatulistiwa Film mengangkat luka lama pasca pemberontakan G30S/PKI, di mana semua hal yang berbau gerakan tersebut akan dimusnahkan pada masa itu. Dengan plot yang maju-mundur, cerita bermula dari keengganan seorang bapak untuk berkunjung atau sowan ke rumah teman istrinya yang ternyata masih hidup. Si bapak dulunya adalah anggota tentara yang bertugas menangkap mereka yang terlibat PKI, termasuk di antaranya keluarga teman istrinya itu. Egonya sebagai tentara masih terbawa hingga tua, padahal istrinya ingin berdamai dan menyudahi masa lalu yang kelam itu. 

Sebagai teman akrab masa kecil, si istri kekeh ingin menemui temannya itu setelah mengetahui kabar tentangnya dari sebuah berita di koran. Diantar oleh anak semata wayangnya, akhirnya sang bapak dan istrinya coba berkendara dengan mobil menuju Solo. Film ini seperti mengisahkan upaya rekonsiliasi peristiwa masa lalu yang menjadi luka mendalam hingga saat ini bagi sesama anak bangsa. Mungkin sebagian masyarakat Indonesia masih menganggap kisah lampau itu sebagai peristiwa tak termaafkan, namun sebagiannya lagi telah melupakannya.

Nah, lucunya, pelajaran menarik dari film ini malah saya dapatkan dari tokoh Heru, yakni anak semata wayang sang bapak dan istrinya. Heru benar-benar menunjukkan karakter anak yang tenang, sabar, dan selalu berusaha menjadi penengah yang bijaksana bagi orang tuanya kala mengalami konflik. Kalau Anda seorang generasi milenial atau minimal generasi X akhir, kemungkinan besar saat ini Anda sedang berada di fase menjadi “orang tua” untuk orang tua Anda, bukan untuk anak Anda saja jika memang sudah berkeluarga.

Umur yang semakin lanjut ternyata bukan jaminan membuat orang semakin bijak, tak jarang malah muncul ego dan berbagai pola pikir yang old school dan sudah enggak relevan. Tetapi Heru pada film tersebut mencontohkan, bagaimana sebaiknya seorang anak bersikap ketika mereka berada di posisi “harus lebih dewasa” bagi orang tua mereka. Sekalipun orang tuanya keras dan punya pendirian masing-masing, Heru tetap hadir sebagai pendengar dan penasihat yang tidak menggurui di tengah mereka.

Nah, dari ketiga film di atas, mana yang ingin Anda langsung tonton terlebih dahulu? Atau Anda punya rekomendasi film lain? Yang jelas, film pendek Indonesia di YouTube rata-rata punya kualitas cerita yang sudah localized dan biasanya diproduksi oleh orang-orang setempat, yang mengenal realitas di lingkungannya. Tema cerita yang diangkat pun sebenarnya simpel dan mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Well, memang relatable ini sih yang sering kali menjadi salah satu kunci kesuksesan sebuah film.

Oke, selamat menonton dan mari kita dukung terus karya anak-anak bangsa, ya!

Related Articles

Opinion

Zoom Fatigue, Kelelahan Habis Ikut Meeting atau Seminar Online

Di tengah situasi pandemi kayak begini, banyak kegiatan yang berubah menjadi pertemuan virtual. Kirain melakukan itu semua dari rumah dapat membuat hidup kita lebih happy. Tetapi, ternyata enggak juga, malah kadang terasa lebih lelah. Nah, Anda pernah mendengar istilah "zoom fatigue"? Yuk, kita kenali lebih jauh untuk mendapatkan alasan dari rasa lelah yang muncul setelah melakukan meeting online.

Opinion

Idealisme dalam Bekerja: Penting atau Enggak?

Pada dasarnya, setiap orang pasti punya value, pemikiran, dan caranya masing-masing dalam melakukan sesuatu, termasuk Anda dan Saya. Nah dalam dunia profesional, sebaiknya seberapa banyak kita “melibatkan” idealisme yang kita punya dalam bekerja?

Opinion

Butuh Rekomendasi Aplikasi Buat Editing Video? Langsung Saja Simak:

Begitu banyak ide, momen, dan peristiwa yang ingin kita dokumentasikan dalam bentuk video. Anda juga saat ini mungkin lagi hobi banget mencari banyak info agar bisa menciptakan sebuah video. Nah sebagai video producer yang berkarya di Contendr a.k.a boutique content marketing agency di Jakarta, saya bakal berbagi info singkat tentang “alat tempur” atau tools yang biasa saya gunakan saat melakukan video editing. Simak ya!

Browse Other Categories

We are your teammates.

We're never just another agency, we're your teammates, providing you with everything needed on the pitch of digital marketing.

Servicesarrow_forward

Hi there!

Ready to cook your digital content with us?

Contact Us Now
Whatsappp Sharing