Prediksi Content Marketing di 2021 Menurut Para Ahli, Penasaran?

By Rinaldy Sofwan Fakhrana,

05 March 2021

Wow, Content Marketing Institute telah mengumpulkan lebih dari 100 orang yang berpengalaman di dunia pemasaran konten untuk memprediksikan tren atau eksekusi content marketing di tahun 2021! Orang-orang yang dimaksud bisa dikatakan ahli di bidangnya, mulai dari thought leaders sampai pembicara di Content Marketing World.

Prediksi-prediksi ini jadi penting banget buat kita beradaptasi ketika dunia masih berusaha pulih dari pandemi COVID-19 yang terus mengubah operasi bisnis dari hari ke hari. Para ahli menyampaikan berbagai perkiraan, termasuk bagaimana peran content marketing akan bermain penting dalam bisnis. Dan dari sekian banyak prediksi, berikut tiga prediksi yang menurut kami paling relevan di 2021. Simak ya!

  • Siap-Siap Fokus ke Video!

Konten video diperkirakan tetap akan menjadi primadona di 2021 ini, termasuk dalam pemasaran konten. Sebagai platform bagi konten video, data digital milik we are social dan Hootsuite tahun 2021 menyatakan bahwa YouTube dan TikTok masuk ke dalam sepuluh besar sebagai media sosial yang paling diminati di Indonesia bahkan YouTube menempati peringkat pertama. Bahkan selama masa pandemi, platform YouTube malah mengalami lonjakan pendapatan hingga 33%. Sedangkan TikTok mengalami kenaikan pengguna hingga 20%.

“Video killed the radio star.” Berulang kali, dari mulai penemuan televisi, VHS, VCD, sampai the YouTube boom, format video memang sudah terbukti jadi juara. Diikuti oleh tren video pendek a la Snapchat, Instagram, dan Tiktok, jelas kalau Anda harus mulai fokus ke jenis konten ini. Kenapa video bisa sebegitu suksesnya merebut perhatian kita? Menurut kami, ini simply karena format ini bisa dibilang effortless dan natural. Cukup bersandar atau bahkan tiduran melihat layar, konten bisa dikonsumsi. Soal ini, Anda pun mungkin bisa relate.

Nah, dari kacamata content marketing, seperti yang sudah pernah kami bahas sebelumnya, video merupakan media yang ideal untuk visual storytelling, di mana Anda bisa menyampaikan jauh lebih banyak pesan, dalam waktu yang jauh lebih singkat, dengan cara yang jauh lebih engaging, ketimbang format konten lain. Jadi wajar saja kalau, di tahun 2020, 92% marketers bilang video jadi bagian penting dari strateginya. Lalu apa kata para ahli yang diwawancarai Content Marketing Institute untuk 2021?

“Berkaca dari 2020 … expect the unexpected? Tetapi serius, expect lebih banyak format social dan visual storytelling yang bakal memperluas batasan dari brand voice Anda, seperti TikTok dan kompetitor lainnya yang serupa,” kata Jennifer Jordan, vice president sekaligus head of content (Amerika Serikat) di Babbel.

Kami setuju banget. Jadi buat Anda yang sudah biasa menggunakan format video untuk marketing tapi cenderung masih ‘tradisional’, seperti video korporat yang cenderung kaku di akun YouTube perusahaan misalnya, ini saat yang baik buat mencoba hal yang baru. Lagi pula, situasi sekarang ini menuntut kita semua beradaptasi untuk survive. So be open to try! 

Kalau Anda masih bingung mau coba video seperti apa, mungkin Anda bisa mulai pikirkan konsep sebuah pertunjukan alias show. “Kita sudah lama terus membahas tentang pentingnya koneksi dengan audiens, tetapi sekarang, orang-orang jauh lebih butuh koneksi ketimbang sebelumnya. Tipe konten paling pas untuk membangun hubungan sedalam ini adalah sebuah show. Akan lebih banyak brand yang membuat original series dalam bentuk audio dan video di tahun 2021 ketimbang tahun-tahun sebelumnya,” kata Jay Acunzo dari Marketing Showrunners.

Sebagai contoh, Campina Summer Barz pun pernah bekerja sama dengan Kapan Lagi Youniverse untuk membuat pertunjukan atau show dalam bentuk mini concert video bernama “Summer Breeze at Home with Maliq & D’Essentials” pada pertengahan tahun 2020 lalu. Mini konser ini sebenarnya adalah virtual live event yang ditayangkan di platform Video.com, namun setelah acara berlangsung, video mini konser tersebut pun diunggah ke akun Instagram resmi Campina menjadi konten IGTV dan berhasil mendapatkan lebih dari 1000 views.

Summer Breeze at Home with Maliq & D’Essentials
  • Siap-Siap Buat Acara Virtual!

Ngomong-ngomong soal show, para pakar yang diwawancarai juga menyebutkan kalau acara-acara virtual akan jadi tren di 2021. Sepanjang 2020, kita sudah sering ketemu dengan yang namanya webinar. Perusahaan besar seperti Apple pun meluncurkan jajaran produk terbarunya dan menggelar konferensi developernya secara virtual. Well obviously kita enggak perlu bikin acara semegah raksasa tech asal California ini. Tetapi apakah Anda siap untuk mengadakan event semacam ini dalam skala lebih kecil sekali pun?

Ini waktu yang tepat untuk mulai ambil ancang-ancang karena konferensi virtual akan terus ada. Tak jadi satu-satunya bentuk acara, tentu saja. Tetapi peningkatan reach, kemudahan, sisi ekonomi, dan longevity konten (yang didapatkan dari acara seperti ini) terlalu menarik untuk ditinggalkan setelah pandemi (sekalipun),” kata Michael Kolowich dari OpenExchange.

Yang harus diperhatikan adalah banyak dari kita sudah hampir setahun menjalani business as usual secara eksklusif dari balik layar monitor, dan the so-called “Zoom fatigue,” seperti yang kami bahas sebelumnya,sudah melanda di mana-mana. Jadi menurut kami ada baiknya untuk mempersiapkan resources and skills untuk menggelar acara-acara seperti ini, namun tetap pantau bagaimana perkembangan trennya ke depan. Kalau menurut Mariah Obiedzinski dari Stamats, prediksinya seperti ini:

“Akan sulit untuk membuat acara webinar tetap interaktif karena adanya Zoom fatigue. Menurut saya kita akan melihat acara-acara virtual yang lebih kecil, lebih terfokus, dan lebih intimate di paruh awal 2021, kemudian kembalinya konferensi tatap muka (dengan protokol kesehatan) di kuartal kedua atau ketiga.” 

Itulah 2021, memang banyak ketidakpastian. Tetapi kalau Anda mau coba ambil head start, Anda bisa juga buat acara dalam skala kecil untuk sekadar “cek ombak” sekaligus belajar. Pernah dengar konsep MVP alias minimum viable product? Konsep ini juga bisa digunakan dalam content marketing, lho.  

Buat yang baru dengar, intinya Anda membuat konten kecil atau “minimum” yang masih bisa achieve, sekaligus “viable” atau bisa berdiri sendiri di tengah pasar. Tujuannya adalah untuk membuat influence sekaligus mendapatkan insights seputar behaviour audiens Anda untuk kemudian digunakan di iterasi konten berikutnya. Dalam dunia pemasaran konten, konsep ini disebut minimum viable content dan detailnya bisa Anda pelajari di sini

Misalnya, alih-alih langsung membuat acara Zoom webinar dengan banyak narasumber, Anda bisa mengadakan Instagram live event terlebih dahulu. Undang satu atau dua pembicara dan lihat bagaimana tanggapan audiens. Dengan biaya dan efforts yang relatif lebih kecil, Anda bisa mendapatkan knowledge untuk membuat konten yang lebih baik dan lebih besar di masa yang akan datang. Lihat hal apa saja yang bisa dikembangkan dari pengalaman ini. Dan, kalau ternyata acara bisa memenuhi KPI di skala kecil, Anda bisa mulai upscale secara bertahap hingga akhirnya jadi a full-fledged webinar kelak

Kalau masih bingung seperti apa bentuk acara minimalis yang bisa Anda lakukan di Instagram, Anda bisa lihat apa kami lakukan dalam acara #BincangNyaman bersama salah satu klien kami, ByeBye-FEVER Indonesia, Oktober lalu. Kami mengundang influencer Cinfung dan dokter anak Arnold Soetarso dari SehatQ sebagai pembicara dalam acara ini. Audiens didorong untuk engage dengan mengajukan pertanyaan untuk dijawab saat event, dan topiknya pun relatable: mengapa bayi suka memasukkan benda ke dalam mulut. 

Acaranya bisa dibilang minimalis karena kami tidak mengundang banyak pembicara dan hanya menggunakan Instagram Live menggunakan perangkat masing-masing narasumber, di kediaman masing-masing, tanpa infrastruktur tambahan. Notable investment yang kami lakukan untuk mendukung acara ini hanya berupa paid media yang kami gunakan untuk boosting unggahan event announcement di profil ByeBye-FEVER dan pengumuman serupa di akun SehatQ pada H-3.

Announcement tersebut kami post di Instagram, Facebook dan Twitter. Dari ketiga channel, performa terbaik tentunya terjadi di IG sendiri dengan 2,149 reach, 230 engagements, dan 2,366 impressions (ditambah 149 reach via story). Kemudian dalam rentang tiga hari tersebut, kami mendapatkan 98 followers baru, yang translates ke dalam jumlah penonton tertinggi saat event, yakni 80 orang. 

Angka ini memang enggak terdengar bombastis untuk media sosial, tapi untuk live event yang bersifat time-constrained, kami cukup puas. Untuk gambaran, coba bayangkan deh kalau acara serupa digelar secara tatap muka dan dihadiri hampir 100 orang. Terlebih jika mengingat announcement baru dilakukan tiga hari sebelumnya. Audiens pun aktif memberikan pertanyaan baik sebelum dan saat event, menandakan ada koneksi antara brand dan peserta yang terjalin di sini.

Real connection dan engagement itulah yang paling berharga buat brand. Dan untuk kami sebagai content marketers, kami mendapatkan insights mengenai audience behavior sekaligus masukan berupa komentar yang diberikan langsung oleh peserta untuk kami manfaatkan dalam konten selanjutnya.

 

Bicara tentang konten lanjutan, sebelum membuat acara serupa kami juga membuat beberapa post-event content. Seperti yang kami singgung sebelumnya, acara live bersifat time-constrained dan nggak semua audiens bisa meluangkan waktu di saat acara berlangsung, terutama ketika pengumumannya dibuat dalam waktu singkat. Jadi kami mengunggah video rekaman event ke IGTV dan hasilnya, boom, 4,114 views, 36 likes, 5 comments, 4 saves, dan 10 shares.

  • Siap-Siap Tambah Pekerjaan!

Mungkin banyak dari prediksi-prediksi ini yang jadi hal baru buat Anda, but that’s what it takes to survive the changes. Adaptasi memang jadi penting banget dan mau enggak mau kita harus siap-siap buat keluar dari zona nyaman. 

Menurut Robert Rose dari Content Marketing Institute, “content marketers boleh berekspektasi untuk memperluas cakupan pekerjaan dan tanggung jawab di tahun 2021. Kita tidak bisa hanya membuat konten yang memenuhi tuntutan penjualan, demand gen, layanan account, atau C-suite. Content marketers diharapkan mempelajari banyak skills baru--content operations, digital asset management, measurement, dan bahkan paid media. “

Bicara soal paid media, kami pun sudah melakukannya, dan sekali lagi untuk ByeBye-FEVER Indonesia. Kami ingatkan kembali, paid media adalah konten berbayar agar calon-calon konsumen potensial Anda di luar sana dapat melihat konten brand Anda di timeline media sosial mereka sekalipun mereka bukan follower akun media sosial brand Anda. Silakan cek artikel ini agar Anda mendapatkan pembahasan lebih lengkap mengenai paid media sekaligus melihat contoh pekerjaan paid media bagi ByeBye-FEVER Indonesia.

Oke, kembali pada soal bekerja ekstra untuk mengelola content marketing. Keterbatasan mobilitas,  terutama di masa pandemi seperti sekarang ini bisa berujung pada peningkatan konsumsi konten. Terlebih, walau pergerakan kita serba enggak leluasa, roda teknologi terus berjalan dan mempermudah kita untuk mengakses dan membuat konten. Dengan surutnya interaksi tatap muka yang biasa terjadi antara konsumen dan sales representative sehari-hari, keberhasilan content marketing pun akan jadi semakin krusial.

“Dengan pergeseran kebutuhan akan segala hal yang serba digital di tahun 2020, konten sebagai marketer, salesperson, dan customer service representative akan jadi semakin penting. Konten akan memainkan peran wajib dalam strategi marketing di tahun 2021,” kata Pamela Muldoon dari Avalara.

Bagaimana, bisnis Anda siap beradaptasi dengan prediksi-prediksi ini? Kalau Anda merasa perubahan ini terlalu overwhelming untuk saat ini, nggak perlu khawatir karena kami sudah berpengalaman berkutat dalam dunia digital marketing sejak awal dan siap membantu Anda bertransisi. So don’t miss your train, because this is already happening.Our storytellers would be very happy to be part of your new successes in this era of new normal--just drop us a line and let’s get through this together! 

Related Articles

Content Marketing

B2C vs B2B Marketing, 3 Perbedaan yang Harus Marketer Pahami

B2C dan B2B marketing adalah dua istilah yang sudah sangat fimiliar di dunia marketing, terlebih bila Anda adalah seorang marketer. Nah dalam artikel kali ini akan dibahas mengenai perbedaan keduanya dari sisi strategi pemasaran, platform pemasaran, dan approach ke audiens.

Content Marketing

Brand Persona dan Buyer Persona, Mengapa Keduanya Penting?

Sebelum menjalankan marketing campaign, seorang content strategist akan menetapkan terlebih dahulu brand persona dan buyer persona. mengapa penting bagi sebuah brand untuk memiliki brand persona dan buyer persona sebelum aktif melakukan kegiatan pemasaran?

Content Marketing

Bikin Livestream Video? Marketer Harus Catat 3 Hal Ini!

Content marketing dalam bentuk livestream video diprediksi atau mungkin lebih tepatnya kini sudah menjadi suatu tren dalam menjalankan pemasaran brand di dunia digital. Bagaimana dengan Anda, apakah brand Anda lagi mempertimbangkan konten livestreaming sebagai content strategy atau social media strategy tahun ini?

Browse Other Categories

We are your teammates.

We're never just another agency, we're your teammates, providing you with everything needed on the pitch of digital marketing.

Servicesarrow_forward

Hi there!

Ready to cook your digital content with us?

Contact Us Now
Whatsappp Sharing