6 Prinsip Content Writing dalam Pembuatan Blog Post

By Rinaldy Sofwan Fakhrana,

22 March 2021

Content Writing

Tahukah Anda alasan kenapa blog tetap jadi satu dari tiga jenis media utama yang selalu digunakan dalam strategi content marketing berbagai brand dunia hingga 2020 lalu? Gampang saja, salah satunya karena perusahaan-perusahaan yang nge-blog terbukti mendapatkan ROI 13 kali lipat dibandingkan bisnis yang enggak melakukannya. Tetapi, untuk mengikuti jejak mereka, tentunya Anda butuh eksekusi yang baik, lengkap dengan teknik content writing yang efektif. 

After all, itu juga alasan penyedia content writing services seperti kami masih bisa berbisnis hingga hari ini. Ya, kami ada untuk bekerja sama dengan brand seperti Anda melalui skills dan creativity untuk membuat berbagai konten yang standout di tengah kompetisi yang makin hari makin ketat. Walau begitu, bukan berarti Anda enggak bisa mulai untuk mencoba bikin blog sendiri, lho! Bisa membantu Anda dengan berbagi pengetahuan juga kami sudah cukup senang. For starters, ingat saja enam prinsip berikut ini:

Jadi “Cyborg”

Enggak kok, kami enggak menyarankan Anda untuk mengikuti jejak Robocop. Tetapi menulis blog untuk tujuan bisnis itu unik banget karena writers harus bisa jadi “cyborg” dengan menulis untuk manusia sekaligus robot-robot search engines. Kedua hal ini membutuhkan teknik content writing dan skill sets yang berbeda, tapi kita bisa cari jalan tengahnya. 

Yang dimaksud dengan menulis untuk robot adalah hal yang biasa disebut dengan search engine optimization atau SEO. Mengingat search adalah sumber traffic nomor satu untuk blog, aspek ini enggak boleh sampai terlewat dalam content marketing Anda. Ada banyak hal yang harus diperhatikan agar blog Anda mudah ditemukan oleh mesin pencari, mulai dari pemilihan kata dalam judul, posisi keywords dalam artikel, hingga panjang konten. 

Masalahnya, artikel yang dibuat sedemikian rupa agar mudah dibaca oleh robot belum tentu nyaman untuk dibaca oleh sesama manusia. Anda bahkan bisa saja bikin artikel menggunakan mesin untuk mengakali algoritma search engines dan tampil di halaman pertama Google. Tetapi hasilnya akan berupa kata-kata yang enggak bisa dimengerti dan, sebagai brand, bukan itu yang Anda butuhkan. Content marketing is all about building connections and trust with your audience to make loyal customers. Dan untuk itu, Anda butuh storytelling. Karena kita semua suka cerita yang menarik, kan? So, prinsipnya adalah buat konten yang menarik untuk audiens Anda dan optimalkan dengan SEO sejauh mungkin tanpa mengurangi kualitasnya. 

Fokus pada Kualitas

Which brings us to our second point: focus on quality. Blog post kayak gimana sih yang bisa dibilang berkualitas? Seperti yang kami singgung sebelumnya, hal yang paling utama adalah storytelling. Walaupun content marketing tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan leads, Anda enggak bisa menjejali audiens dengan sales pitch dalam blog. Biarlah semua itu tetap berada di ranah iklan

Di sini, Anda akan lebih ingin bercerita tentang siapa Anda. Buka diri pada audiens, biarkan mereka mengenal brand Anda lebih jauh lewat konten yang memang menarik untuk mereka. Jadi, blog post yang berkualitas adalah yang blog post yang relatable dan sesuai dengan target. Untuk itu, cari tahu siapa saja audiens Anda lewat user research dan buat strategi yang matang untuk mengomunikasikan brand values sekaligus memberikan solusi-solusi untuk masalah mereka.

Selain itu, perhatikan juga teknik content writing karena konten yang Anda buat juga harus berkualitas dalam kemasannya. Anda pernah kan ketemu buku yang page-turner banget sampai susah ditinggal? Seperti buku itu, Anda harus perhatikan flow cerita dan kata-kata agar audiens ingin lanjut baca. Bahasa yang digunakan pun harus mudah dicerna dan enggak banyak kesalahan penulisan. Otherwise, pembaca bisa-bisa keburu males duluan karena bingung atau kehilangan kepercayaan walaupun topik konten yang Anda buat terbilang menarik. Selebihnya, kami sudah bahas tuntas dalam artikel tips buat bikin blog enggak boring. Feel free buat buka di tab baru ya!

Give Value

Nah, bicara tentang cara membuat konten yang ingin dibaca audiens tentu enggak terlepas dari topik. Di sini, pastikan blog Anda punya value untuk diberikan pada pembaca. Contohnya nggak jauh-jauh deh, artikel ini kami harap bisa bernilai untuk target audience kami, brand seperti Anda, yang tertarik untuk mendalami content marketing.

Seperti yang kami bilang sebelumnya, membantu dengan berbagi pengetahuan tentang bidang yang kami tekuni ini saja kami sudah senang. And we genuinely hope that it will help you. Tapi lebih dari itu, artikel seperti ini juga membuka kesempatan bagi kami untuk memperkenalkan brand kami, menunjukkan bagaimana kami bekerja, dan memberi gambaran pada potential clients tentang seperti apa rasanya bekerja sama dengan kami kelak. 

Memberikan value enggak melulu soal tips dan trik. Ada banyak topik yang Anda explore berdasarkan user research masing-masing. Misalnya, kalau Anda brand yang concerned pada kelestarian lingkungan, Anda bisa bahas hal-hal yang shareable terkait isu tersebut. Salah satu contohnya, saat bekerja sama dengan Asia Pulp & Paper, kami sempat membuat blog post tentang penelitian yang membuktikan kalau menanam pohon bisa mengurangi emisi di sekitar kawasan industri. Insights seperti ini punya value untuk audiens brand yang peduli pada isu-isu keberlanjutan sehingga berpotensi untuk disimak dan dibagikan.

Blog post yang punya value enggak melulu berarti tips dan trik

Blog post yang punya value enggak melulu berarti tips dan trik

Menulis dengan Efisien

Lalu harus seberapa panjang sih artikel blog yang ditulis? Kalau Anda sudah sempat Googling dan baca-baca di website lain, mungkin saat ini Anda sedang bingung karena ada yang menyebutkan angka spesifik seperti 1.600 kata, atau mungkin 2.100-2.400 kata, dan masih banyak lainnya. Ada yang bilang menulis lebih panjang lebih baik karena lebih mudah terindeks oleh search engine, dan ada juga yang bilang sebaliknya karena pembaca internet punya short attention span. 

The thing is, sebenarnya enggak usah terlalu pusing soal jumlah kata yang harus dituliskan selama pesan Anda bisa tersampaikan dan artikel memenuhi tiga prinsip yang kami sebutkan sebelumnya--optimal untuk dibaca dan diindeks search engine, berkualitas, dan bernilai. Let your content dictate the length of your blog post. Kalau memang harus panjang karena butuh banyak penjelasan, ya enggak perlu dipaksakan untuk ditulis lebih singkat. Begitu pun kalau memang hanya ada sedikit hal yang mau disampaikan, enggak perlu memasukkan informasi yang nggak penting demi memenuhi target jumlah kata. 

Yang terpenting adalah teknik content writing untuk menulis dengan efisien. Artinya, gunakan kalimat yang efektif, hindari repetisi, perhatikan aliran informasi agar pembaca bisa dengan cepat memahami konten. Bukan berarti jumlah kata optimal yang disebutkan di banyak artikel tips dan trik itu enggak berguna, tetapi ingat kalau setiap konten harus mendapatkan treatment paling optimal yang pastinya berbeda dari satu post ke post lainnya. Jadikan angka-angka itu catatan saja karena enggak ada satu rumus yang pas untuk segala kebutuhan, selain mindset kalau konten Anda enggak boleh sampai buang waktu berharga dari para audiens. 

Dan bukan berarti artikel blog Anda bisa sependek satu dua kalimat atau sepanjang puluhan halaman. Tulis sebagaimana blog post pada umumnya saja karena audiens akan expect itu. Bayangkan saja kalau Anda dengar radio dan bertemu lagu yang berdurasi lima detik atau 20 menit, aneh kan ketika Anda sudah punya ekspektasi tiga menitan? Ingat kalau ada media lain yang lebih sesuai seperti Twitter untuk konten yang pendek banget dan e-book untuk konten yang super panjang.

Kami sendiri pernah membuat konten yang kurang dari 600 kata saat bekerja sama dengan ByeBye-FEVER dari Hisamitsu hingga yang panjang banget sampai butuh daftar isi, karena konten tersebut merupakan konten artikel yang menerapkan skyscraper technique. Yang jelas, dalam pikiran kami sudah tertanam kalau blog enggak boleh sampai buang waktu, maka daftar isi di sini jadi penting banget. Kalau Anda punya prinsip yang sama, kami rasa enggak akan ada masalah soal panjang atau pendeknya blog Anda.

Daftar isi memfasilitasi audiens yang nggak punya banyak waktu buat membaca artikel secara keseluruhan.

Daftar isi memfasilitasi audiens yang nggak punya banyak waktu buat membaca artikel secara keseluruhan.

Headline, Headline

Nah, lain cerita dengan headline. Ada banyak alasan kenapa judul sebuah blog post harus berada di jumlah karakter atau kata tertentu. Salah satunya terkait dengan prinsip menulis untuk “robot,” yaitu memerhatikan panjang judul yang ditampilkan di Google. Contohnya seperti gambar berikut:

Google punya batasan karakter untuk judul halaman yang ditampilkan dalam hasil pencarian

Google punya batasan karakter untuk judul halaman yang ditampilkan dalam hasil pencarian

Google biasanya menampilkan 50-60 karakter di sini. Selain itu, analisis Hubspot juga menunjukkan kalau jumlah karakter ideal untuk judul blog adalah 60 karakter. Soal performa saat blog di-share di media sosial, headlines antara 8 dan 12 kata adalah yang paling banyak dibagikan di Twitter. Sementara judul 12 hingga 14 kata lebih banyak mendapatkan like di Facebook.

Perbandingan panjang judul dan performa blog post di media sosial

Perbandingan panjang judul dan performa blog post di media sosial
Source: Hubspot

Yang ingin kami tambahkan, selain soal panjang, judul blog juga harus menarik untuk diklik. Bukan berarti harus clickbait, karena itu bisa merusak kepercayaan audiens pada brand Anda. Tetapi headlines mesti catchy dan clear sehingga pembaca tertarik untuk membaca. Kami sudah pernah bahas perbedaan copywriting dan content writing sebelumnya, kan. But there should be a little bit of copywriter mentality in every content writer and vice versa. Itu berguna banget untuk keperluan yang satu ini! 

Blog for Ecosystem

Sekarang kita tahu judul seperti apa yang bisa perform dengan baik di media sosial. Tetapi lebih dari itu, isi blog Anda pun mesti menarik untuk dikonsumsi di sana. Kita semua semakin banyak menggunakan platform media sosial dan 25% marketers pun meyakini kalau investasi di bidang ini berdampak positif pada revenue dan sales mereka. 

Jadi sudah enggak aneh lagi kalau blog perusahaan kini harus jadi bagian dari satu ekosistem yang kuat bersama platform-platform sosial seperti Instagram, Facebook, dan Twitter. Untuk membuat konten yang perform dengan baik di sana, Anda bisa mulai dengan membahas topik-topik yang sedang tren, tentunya dengan tetap memerhatikan prinsip-prinsip di atas. 

Misalnya, Anda bisa lihat trending topics yang relevan dengan brand Anda dan menulis blog terkait isu atau fenomena tersebut. Catatannya, ingat kalau tren di media sosial itu bergerak cepat banget, jadi Anda harus jaga juga kecepatan publishing blog agar konten enggak basi. Diunggah sehari setelahnya? Fine, asalkan pembahasan yang ditawarkan mendalam dan tetap memberi sudut pandang yang baru untuk audiens. 

Selain itu, gaya bahasa pun juga bisa disesuaikan dengan yang digunakan para netizens yang tentunya sesuai segmentasi pasar Anda. Kalau target audience Anda sedang suka pakai meme tertentu di media sosial, misalnya, Anda bisa masukkan juga dalam blog.

Kesimpulannya?

Blog memang bukan sebuah bentuk konten pemasaran yang baru, namun masih jadi bagian penting dalam strategi marketing di tahun 2021 ini. Artinya, media yang satu ini memang efektif banget dalam hal content marketing walaupun media sosial terus menjamur.

Tetapi, kita yang sudah merasa familier dengan media ini mungkin menganggap blogging adalah sesuatu yang mudah dan enggak menganggapnya terlalu serius. Jadi, kalau Anda bingung kenapa blog perusahaan Anda enggak perform, coba ikuti keenam prinsip ini supaya lebih baik ya! 

Kalau Anda merasa sudah mengikuti prinsip-prinsip di atas tapi performanya masih belum memuaskan, atau merasa enggak bisa meng-handle produksi konten sendirian, mungkin sudah saatnya menghubungi penyedia content writing services seperti kami. Lebih dari itu, kami juga punya banyak layanan lainnya yang bisa bantu Anda lho. Say hi aja via Whatsapp sekarang, ceritakan bisnis Anda pada kami, and let us do the rest! Sampai ketemu!

Related Articles

Content Marketing

B2C vs B2B Marketing, 3 Perbedaan yang Harus Marketer Pahami

B2C dan B2B marketing adalah dua istilah yang sudah sangat fimiliar di dunia marketing, terlebih bila Anda adalah seorang marketer. Nah dalam artikel kali ini akan dibahas mengenai perbedaan keduanya dari sisi strategi pemasaran, platform pemasaran, dan approach ke audiens.

Content Marketing

Brand Persona dan Buyer Persona, Mengapa Keduanya Penting?

Sebelum menjalankan marketing campaign, seorang content strategist akan menetapkan terlebih dahulu brand persona dan buyer persona. mengapa penting bagi sebuah brand untuk memiliki brand persona dan buyer persona sebelum aktif melakukan kegiatan pemasaran?

Content Marketing

Bikin Livestream Video? Marketer Harus Catat 3 Hal Ini!

Content marketing dalam bentuk livestream video diprediksi atau mungkin lebih tepatnya kini sudah menjadi suatu tren dalam menjalankan pemasaran brand di dunia digital. Bagaimana dengan Anda, apakah brand Anda lagi mempertimbangkan konten livestreaming sebagai content strategy atau social media strategy tahun ini?

Browse Other Categories

We are your teammates.

We're never just another agency, we're your teammates, providing you with everything needed on the pitch of digital marketing.

Servicesarrow_forward

Hi there!

Ready to cook your digital content with us?

Contact Us Now
Whatsappp Sharing